Beranda KESEHATAN Tangani Pasien Sakit Jiwa, Dinsos dan Keluarga Pasien Perlu Sinkronisasi

Tangani Pasien Sakit Jiwa, Dinsos dan Keluarga Pasien Perlu Sinkronisasi

865
0
BERBAGI

Katingan, (faktahukum.co.id) – Dinas Sosial Kabupaten Katingan berharap ada kerja sama antara  keluarga  dengan pihaknya, terkait penanganan pasien sakit  jiwa.  Sering terjadi orang tua pasien kurang mempehatikan pengobatan lanjutan anak,  sehingga seolah-olah Pihaknya membiarkan adanya orang gila berkeliaran di jalan-jalan, “Kami hanya memfasilitasi serta membantu segala hal menyangkut pengobatan, namun semuanya juga tergantung dari keluarga pasien untuk perawatan hingga kesembuhannya,” ungkap Kepala Dinas Sosial Kabupaten Katingan, Dra. Kesmy Pandiangin ketika dihubungi FHI, Kamis, (26/718).

Lebih lanjut Kesmy menyebutkan,”Pengobatan untuk pasien penyakit  jiwa memerlukan waktu panjang serta rutin, harus  ada ketekunan  dan kerja sama keluarga  pasien supaya pengobatan  berhasil.”ujarnya.”Mengenai, adanya keluhan keluarga pasien sakit jiwa atas nama Husni (20) yang sering berkeliaran di jalan tanpa ada perhatian, Agustus  akan melanjutkan pengobatan pasien tersebut ke Panti  Bina Laras Banjar Baru, disana sudah ada dokter spesialis jiwa yang akan lebih intensif memberikan perawatan dan pengobatan serta pasien diajarkan ketrampilan supaya setelah sembuh dapat kembali berbaur dengan masyarakat,” tambahnya Dra. Kesmy Pandiangin mengakhiri pembicaraan.

Sementara menurut sumber di Dinas Sosial mengaku, Husni sudah dua kali mendapat pengobatan dari Rumah Sakit Jiwa Kalawa Atei Palangka Raya melalui Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan dengan biaya tanggungan dari Pemerintah Kabupaten Katingan.“Namun penyakitnya belum bisa disembuhkan dan semestinya harus dikirim ke Rumah Sakit Pulau Jawa,”sebut sumber ini. Ditambahkannya,”Untuk pengobatan perlu ada kerja sama dengan orang tua pasien,”tuturnya. Namun sumber tidak menjelaskan secara rinci kerja sama seperti apa yang pihak Dinas sosial inginkan untuk menanggulangi masalah ini.

Paris, ibunda Husni yang ditemui di rumahnya , mengaku sangat berharap adanya bantuan dari pemerintah daerah untuk segera memberangkatkan anaknya ke Rumah Sakit Jiwa yang lebih representatif. Namun hingga kini belum ada titik terang dari Dinas Sosial Kabupaten Katingan mengenai  kelanjutan penanganan anaknya.“Sudah lama saya mengajukan permohonan secara lisan kepada Dinas Sosial Kabupaten Katingan, tapi belum ada realisasinya,”katanya, Kamis (19 /07/18) lalu.

Dengan jumlah anak sebanyak tujuh orang  yang masih kecil, sedangkan suaminya sudah  meninggal dunia, ibunda Husni mengaku sangat repot jikalau mengurus Husni sendiri.”Saya harus bekerja menjual sayur-sayuran untuk memenuhi kebutuhan hidup kami, ya apa boleh buat, akhirnya anak saya Husni tak terurus,”hibanya.

Ditambahkannya, penyakit kelainan jiwa pada Husni  mulai terlihat ketika ia berusia 16 tahun setelah sebelumnya  berusia di bawah dua tahun sering mengalami sakit panas dan kejang-kejang. Ia sempat curiga  ada kelainan pada anaknya, yang pada saat harus sekolah namun tidak bisa mengikuti pelajaran. Kini kecurigaan itu terbukti .

Terpisah Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Katingan, Setia Jaya mengatakan, pihaknya sudah dua kali mendampingi Husni menuju rumah Sakit Jiwa Kalawa Atei Palangka Raya dengan biaya dari pemerintah Kabupaten Katingan. “Bisa saja yang bersangkutan (Husni red.) minta Jamkesda untuk rujukan keluar pulau, kami siap bantu untuk prosedur dan siap dampingi selama pengobatan,“sebut Setia Jaya.

Pantauan faktahukum, Husni yang tak terurus terkadang  mendapat belas kasih dari tetangga yang   memberi uang dan makanan, terlihat ketika awak media menuju rumahnya , Husni sedang makan dengan lahap. Awak media coba ambil gambar, Husni sempat berpose dengan mengangkat dua jari. Ketika selesai ia mendekat dan coba melihat hasil foto dalam HP. Masih  terlihat seperti orang waras dan sangat disayangkan jika belum ada lanjutan pengobatan.

Ketidakberdayaan orang tua Husni yang harus mencukupi kebutuhan sehari-hari, pihak keluarga Husni   berharap dapat menjadi pertimbangan Pemerintah Kabupaten Katingan untuk jemput bola membantu mengurus pengobatan yang bersangkutan dan jangan cuma menunggu.  Padahal, kata sumber Fakta Hukum Indonesia menyebut Husni sering mondar-mandir melalui kantor bupati Kabupaten Katingan, semua nampak sibuk dengan urusannya dan keberadaan Husni yang terkadang terlihat seperti melanggar  asusila  seperti dibiarkan begitu saja. “Baru satu saja orang gila di Kabupaten ini nggak terurus apalagi banyak,” sesal sumber yang enggan disebut namanya ini. (Dany)