Beranda WISATA Pantai Caruban Menyimpan Sejarah Peradaban Manusia Abad ke -15

Pantai Caruban Menyimpan Sejarah Peradaban Manusia Abad ke -15

1465
0
BERBAGI

Rembang, (faktahukum.co.id) – Pohon Cemara Udang yang tumbuh di sepanjang Pantai Caruban menjadi teduh. Terlihat juga air lautnya yang jernih karena terjaga dari pencemaran limbah, karena lokasinya yang memang jauh dari pemukiman warga ataupun Industri. Pantai yang berlokasi di Desa Gedhong Mulyo, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang ini bernama Pantai Gedhong Caruban inilah layak untuk dijadikan sebagai destinasi wisata yang indah bagi pengunjungnya. Hal itu seperti diungkapkan oleh Rudi Maksum, salah seorang warga asli desa Gedhong Mulyo Lasem, yang dipercaya mengetahui sejarah peradaban Pemerintahan Kadipaten Lasem pada Abad ke – 15 lalu kepada wartawan faktahukum.co.id dilokasi pantai, Rabu (13/6/2018) lalu.

Menurut Rudi, sejarah dari destinasi wisata ini ketika Putri Malokhah yang merupakan Putri dari Sunan Ampel menikah dengan Prabu Wiranegara, sebagai pewaris kekuasaan dari ayahnya yang bernama Prabu Wiranegara sebagai Adipati Lasem pada waktu itu.

Setelah menjabat selama 5 tahun sebagai Adipati Lasem, Prabu Wiranegara kemudian meninggal dunia. Selanjutnya Putri Malokhah memegang kekuasaan menggantikan sang suami menjabat sebagai Bupati Lasem.

Rudi Maksum menambahkan, selanjutnya Putri Malokah memindahkan pusat Pemerintahan Kadipaten Lasem di Binangun ke Kriyan, yang puncak kekuasaan di Binangun dipegang oleh Prabu Wirabajra dan Prabu Wiranegara.

Sedangkan di Kriyan, Putri Malokhah memimpin Kadipaten Lasem dibantu Prabu Santikusuma (Sepupu dari Pr. Wiranegara suami Putri Malokhah).

Sebelum melanjutkan ceritanya, bahwa Daerah bekas pemerintahan Lasem yang berada di Binagun uang dipimpin oleh Putri Malokhah kemudian diserahkan kepada adiknya yaitu Sunan Bonang, yang menjabat sebagai Wali Negara yang mengurus keagamaan Islam.

Rudi juga menyebutkan, tidak jauh dari lokasi Taman SITTARESMI atau Pantai Caruban ini, para wisatawan yang berkunjung akan mudah juga menemukan sebuah Situs Candi Samudrawela (candi untuk memuja Sang Hyang Baruna atau Dewa Laut).  Situs Candi ini adalah situs yang digunakan sebagai tempat pemujaan penting bagi kaum nelayan saat itu yang masih beragama Syiwa Budha, yang diserahkan kekuasaanya mengurus keagamaan di wilayah Krian tersebut kepada Prabu Santipuspa, yang menjabat sebagi Dhang Puhawang sebagai Pejabat Penguasa Laut.

Rudi Maksum berpesan, cerita peradaban Pemerintahan di Kadipaten Lasem saat itu adalah sebagai bentuk peradaban yang pada waktu itu sangat menghormati kerukunan umat beragama, agar tidak ada perpecahan, tetap saling hormat menghormati. Pada saat itu sebenarnya makna dari Bhineka Tunggal Ika sebenarnya sudah ada, sebelum Pemerintahan Kadipaten Lasem yang akhirnya dipindahkan di Kabupaten Rembang.

Di tempat terpisah, Sutrisno, salah satu pemilik sewa motor pantai di lokasi mengungkapkan, bahwa sejak beberapa tahun lalu, pihak pemerintahan desa setempat selalu berinovasi, dengan menawarkan berbagai macam pilihan permainan seperti halnya dengan keberadaan sewa motor pantai, fasilitas permainan dan penambahan fasilitas – fasilitas yang lain, sehingga sesuai dengan harapan kita semua.

Selain itu, harapan Sutrisno, jumlah wisatawan yang berkunjung ke tempatnya tersebut bisa terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu, karena di Pantai Caruban bisa menjadi pilihan destinasi wisata, juga bisa memberikan edukasi yang bakal didapatkan oleh para pengunjungnya.

(Sugito)