Home ARTIKEL Menyimak Arti Dinamika Kehidupan

Menyimak Arti Dinamika Kehidupan

66
0
SHARE

Oleh : Syam Hunter

Menganalis arti sebuah kehidupan ibarat gelombang air terkadang pasang terkadang surut dan sulit kita cermati,karena proses tersebut adalah kejadian alam,demikian halnya manusia,tidak mungkin dapat hidup sendiri,manusia membutuhkan untuk berinteraksi demi memenuhi kebutuhan hidupnya, baik pada segi-segi fisiologi, psikologi, maupun sosiologi.

Akhirnya tercipta kelompok-kelompok sosial yang di antaranya memiliki kepentingan dan kebutuhan yang berbeda-beda.yaitu tumbuh persaingan, lahir kompetisi, kompetiter dan saling adu strategi, bahkan pada nantinyq muncul sikap-sikap saling mendominasi atau saling menguasai di antara masyarakat itu sendiri.

Sebenarnya mencermati sistem kemasyarakatan yang ada di sekitar kita, bak menonton film mafia yang menonjolkan potret perilaku jahat manusia, atau membaca novel tentang sikap hitam putih manusia, atau pun mendengarkan kisah-kisah nyata seperti ,membunuh ayah kandung ,perkosa anak kandung dan lain sebagainya.

kisah-kisah tersebut pada dasarnya adalah refleksi dari perilaku-perilaku manusia sebagai keniscayaan yang terjadi apa adanya dan seharusnya dapat menjadi cermin sekaligus menyadarkan diri kita, betapa sangat kompleksnya perilaku manusia itu, sehingga seolah membenarkan pendapat kalangan filosof bahwasanya semakin dalam kita membahas dimensi manusia, semakin banyak pertanyaan yang timbul. Terasa betapa bodohnya sosok manusia itu.

Bila direnungkan, kompleksitas masalah manusia tersebut sebenarnya adalah sebuah rahmat. hal itu merupakan ladang persemaian untuk dijadikan peluang meraih sukses bagi manusia yang cerdik.

Bagi kalangan pakar psikologi, pakar manajemen, pakar komunikasi, situasi itu seolah medan berlomba untuk berebut kebenaran melalui metode-metode pendekatan terhadap permasalahan manusia yang mereka tawarkan.

Maka, dinamika kehidupan manusia pun menjadi hidup dan bergairah. Para analis maupun kalangan konsultan, semakin dibanjiri klien yang membutuhkan diagnosis dan terapi.

Dalam keadaan yang demikian itu, takaran-takaran atau ukuran-ukuran tentang apa yang disebut dengan kesuksesan memang menjadi kian bias, jika tidak disebut semakin kabur. Sebab tidak ada standar penilaian yang baku.

Semuanya dikembalikan kepada ukuran penilaian masing-masing pribadi manusia sesuai keyakinan dan kepentingannya.
Kini, sebagai pemilik kehidupan manusia memiliki agenda tentang bagaimana mengelola dirinya sendiri agar dapat meraih sukses.

Terlepas mengenai makna seperti apa yang dimaksudkan dengan hidup sukses. Sebab orang dapat saja menafsirkan, dan pendapat ini paling banyak peminatnya, adalah sebuah kesuksesan ketika manusia itu sudah memiliki kekayaan, popularitas, serta jabatan yang tinggi.

Atau, ada pula orang yang meyakini bahwasanya kesuksesan hidup itu dapat diraih bilamana manusia itu telah memasuki alam kehidupan yang tenang, dinamis, dan tidak direcoki dengan persoalan hidup macam-macam, meski secara faktual tidak dapat disebut sebagai orang kaya, orang top, dan seterusnya.

Etika Watak versus Etika Kepribadian
Seperti sering disebut dalam kitab suci agama-agama yang ada, dalam sistem kehidupan ini selalu berpasang-pasangan. Ada pria dan wanita, siang dan malam, dan ada pula kebaikan disamping keburukan/ kekejaman dunia.

Memperbincangan kebaikan-kebaikan dunia terhadap kita, sudah tentu tak ada buku yang cukup untuk mencatatnya. Karena sejak kita dilahirkan di dunia ini, bahkan sebelum kelahiran itu terjadi, manusia sudah merasakan kebaikan-kebaikan itu.

Kebaikan yang paling patut untuk disyukuri adalah kenikmatan memiliki jiwa yang waras, sehingga otak kita dapat berfungsi optimal untuk memikirkan segala kebutuhan manusia serta bagaimana memenuhinya. Bagaimana seandainya pikiran kita tidak waras?

Selanjutnya memperhatikan berbagai perilaku sosial yang terjadi disekitar kita, tampaknya memiliki kegayutan. Betapa tidak, demi meraih jabatan, peningkatan karir, pekerjaan, atau apa pun yang dibutuhkan, kita dapat melakukan apa saja. Perilaku kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN), sudah diyakini bukan lagi barang haram yang wajib dihindari.

“Bahkan secara ekstrem, orang tidak malu lagi mengatakan: “Bagaimana mungkin mendapatkan yang halal, bilamana untuk mencari yang haram saja sulit”

Premis semacam itu secara kejiwaan dapat menumbuhkan pembenaran. Dengan kata lain membentuk perilaku permisif, oleh karena sikap-sikap immoral semacam itu sudah menjadi gejala dan dianggap perilaku yang wajar. Sebab perilaku yang lurus dan jujur justru diprediksikan bakal berujung pada kerugian-kerugian.

Etika watak mengajarkan bahwa hidup efektif berdasarkan prinsip-prinsip yang benar, kesuksesan sejati, serta kebahagiaan yang langgeng, hanya bisa diperoleh apabila prinsip-prinsip tersebut dijadikan bagian dari watak kita. Sedangkan etika kepribadian mengajarkan bahwa sukses adalah sekedar fungsi dari citra popularitas kita di masyarakat,

Fungsi sikap dan perilaku ita, dan fungsi ketrampilan menerapkan rumus-rumus tertentu yang bisa memperlancar proses interaksi antar-manusia. Pendekatan berdasarkan etika kepribadian itu lalu sering disalahgunakan untuk menguasai, atau bahkan menipu orang lain.

Manusia Masa Kini dalam kehidupan keseharian sering kita tidak perhatikan berbagai sisi terselubung yang membingungkan, seperti dampak negatif modernisasi masa kini. Misalnya pencemaran lingkungan, itu terjadi apabila proses alami dalam ekosistem, termasuk yang menyentuh kejiwaan manusia,

Demikian kehidupan yang menuntut kita pribadi harus siap memutar otak dan memiliki sikap sehat : Sikap keutamaan pribadi termasuk: Integritas, kebiasaan kerja keras dan efisien, Realis, rasional, Kritis tetapi tetap terbuka untuk kemajuan.

Kita semua tahu dalam kehidupan ini pasti akan ada sebuah proses perubahan, entah itu baik ataupun buruk. Kalau saja kita membincangkan tentang pertumbuhan manusia, di sana akan ada sebuah proses dari tubuh yang sangat kecil hingga tumbuh menjadi besar dan pada akhir hidupnya,

Tetapi di balik semua itu, tak jarang pula kita menemui dari sejumlah media yang kita baca atau yang telah ditayangkan dalam wacana-wacana televisi yang justru menjadikan aib bagi manusia itu sendiri, tak hanya individu itu yang menanggung aib, namun juga keluarga, masyarakat bahkan bangsa pun menanggungnya.namun kita tak semuanya sadar jika hal tersebut telah menjadi aib bagi kita.

Kita seakan merasa senang jika kita sudah melakukan hal-hal yang dapat membuat orang terkagum-kagum oleh kita. Kagum bukan karena keshalehan, kagum bukan karena tutur kata dan tingkah laku, juga bukan kagum karena kepintaran.

Namun sebaliknya, kita akan merasa bangga jika kita sudah mempertontonkan aurat kita, kita akan merasa bangga jika kita menjadi pimpinan orasi yang sifatnya merusak dan mungkin kita juga akan merasa bangga bila kita yang statusnya belum menikah namun sudah menyandang gelar tak perjaka ataupun tak perawan. Na’u dzubillah hi min dzalik…

Mari kita lihat kehidupan kita saat ini. Krisis moral, krisis akhlak, krisis etika semuanya sudah menjadi hidangan siap saji yang senantiasa dapat kita nikmati bersama. Mulai dari hal yang sangat kecil hingga hal yang seharusnya tidak bisa di toleri oleh pihak agama manapun, kini sudah menjadi santapan bahkan mungkin kita sendiri yang menjadi hidangan tersebut.

Benar dan sangat mutlak kebenaranya bila manusia memiliki hasrat. Manusia tanpa Hasrat tak ubahnya bagaikan benda mati yang berjalan, monoton dan mensifati kemonotonannya.

Oleh sebab itulah mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan dikaruniai sebuah hasrat.namun seringnya kita sebagai manusia dalam memperlakukan hasrat itu cenderung kepada hal-hal yang sifatnya negatif. Entah itu atas dasar tuntutan hidup ataukah sekedar keinginan untuk melakukan hal yang sia-sia saja.

Apa yang akan terjadi setelahnya ketika hasrat diumbar tanpa batasan-batasan yang telah diberikan oleh Agama? Penyakit, Hutang, luka-luka karena bertengkar, dan banyak lagi kerugian-kerugian yang akan dihasilkan ketika hasrat tak mampu dibendung lagi.

Masyarakat terbentuk karena manusia menggunakan pikiran, perasaan dan keinginannya dalam memberikan reaksi terhadap lingkungannya. Hal ini terjadi karena manusia mempunyai dua kinginan pokok yaitu, keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lainnya dan keinginan untuk menyatu dengan lingkungan alamnya.

Mereka sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan,merupakan satu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena setiap anggota kelompok merasa dirinya terkait satu dengan yang lainnya.

Penulis: wakil pemimpin Redaksi FHI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here