Beranda BERITA UTAMA Mathla’ul Anwar Selenggarakan Rakernas Kedua di Jakarta

Mathla’ul Anwar Selenggarakan Rakernas Kedua di Jakarta

662
0
BERBAGI
Ketua Umum PB Mathla'ul Anwar KH Ahmad Sadeli Karim (tengah, di podium) beserta jajaran pengurus lainnya menyampaikan keterangan pers usai diterima Presiden Jokowi di Istana Negara belum lama berselang (Foto: Istimewa)

Jakarta, (faktahukum.co.id)- Ormas islam Mathla’ul Anwar yang kini memiliki perwakilan di 30 provinsi bersiap menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Jakarta pada 7 hingga 9 Desember 2018 dengan jumlah peserta raker sekitar 400 orang dari seluruh Indonesia. Selasa, (27/11/18).

Ketua Panitia Rakernas Mohammad Zen dalam siaran pers Mathla’ul Anwar yang diterima di Jakarta, Selasa menyebutkan, Rakernas kedua selama kepemimpinan KH Ahmad Syadeli Karim periode 2015-2020 itu akan diikuti Pengurus Wilayah dan Pengurus Daerah Mathla’ul Anwar se-Indonesia.

Selain Pengurus Wilayah dan Pengurus Daerah, Rakernas juga akan diikuti perwakilan badan otonom tingkat pusat, yakni DPP Generasi Muda Mathla’ul Anwar (GEMA MA), DPP Himpunan Mahasiswa Mathla’ul Anwar (HIMMA), DPP Ikatan Pelajar Mathla’ul Anwar (IPMA) serta DPP Muslimat Mathla’ul Anwar (Musma).

Rakernas dengan tema “Memperkuat peran Mathla’ul Anwar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa” itu juga direncanakan dihadiri oleh utusan dari Pengurus Perguruan Mathla’ul Anwar seluruh Indonesia. Sejauh ini Mathla’ul Anwar mengelola lebih dari 63 perguruan di seluruh Indonesia.

“Yang dimaksud perguruan adalah komplek pendidikan dalam satu manajemen yang minimal terdiri dari tiga level satuan pendidikan. Semisal, di satu lokasi terdapat Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiah, dan Madrasah Aliyah, maka di lokasi itu sudah bisa didirikan sebuah perguruan,” kata Mohammad Zen.

 Adapun tema “Memperkuat peran Mathla’ul Anwar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa” diangkat karena tetap relevan dengan tuntutan zaman. Dalam kaitan ini cerdas bukan hanya dalam konteks pendidikan, namun juga dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam menyikapi persoalan politik dewasa ini.

Sementara itu tujuan Rakernas adalah untuk melakukan konsolidasi organisasi, termasuk merumuskan dan menyepakati sikap organisasi terkait perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.

Mohammad Zen juga menjelaskan, Mathla’ul Anwar didirikan pada 10 Ramadhan 1334 Hijriah atau 10 Juli 1916 oleh KH E Mohammad Yasin, KH Tb Mohammad Sholeh, dan KH Mas Abdurrahman serta dibantu oleh sejumlah ulama dan tokoh masyarakat di daerah Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Mathla’ul Anwar didirikan berselang empat tahun setelah berdirinya Muhammadiyah serta sepuluh tahun lebih awal dibanding NU. Muhammadiyah didirikan pada 18 Nopember 1912 di Kauman Yogyakarta oleh KH Ahmad Dahlan dan NU pada 31 Januari 1926 di Surabaya Jawa Timur oleh KH Hasyim Asy’ari.

Ormas Islam yang sudah berusia lebih dari satu abad (seratus tahun) itu saat ini mengelola ratusan lembaga pendidikan dari tingkat dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Misi awal pendirian Mathla’ul Anwar adalah melakukan purifikasi ajaran Islam dengan memberantas TBC (tahayul, bid’ah dan churafat).

Pada perkembangan selanjutnya, kesadaran pentingnya mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan semakin terlembagakan dengan berdirinya berbagai sekolah tinggi Mathla’ul Anwar yang kemudian bergabung menjadi Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) pada 2001.

Mathla’ul Anwar memilih strategi untuk membina masyarakat dengan menjalankan tiga misi utamanya yaitu pendidikan, dakwah dan sosial. Strategi itu pula yang membedakan Mathla’ul Anwar dibanding organisasi lain yang lahir pada dekade yang sama.

UNMA yang didirikan tahun 2001 sebagai manifestasi dari misi organisasi Pengurus Besar (PB) Mathla’ul Anwar di bidang pendidikan itu saat ini menjadi universitas swasta bergengsi yang memiliki program studi dan fakultas terlengkap di Provinsi Banten.

Terkait dengan kerjasama luar negeri, Mathla’ul Anwar juga sudah mengembangkan kerjasama di bidang pendidikan yang intensif dengan lembaga pendidikan di beberapa negara, yakni Singapura, Malaysia, dan Turki.

Menurut Mohammad Zen, masih banyak “pekerjaan rumah” yang harus dilakukan untuk terus menggali berbagai “mutiara dan berlian” karya para pendahulu Mathla’ul Anwar yang masih relevan dengan kondisi kekinian, dan Mathla’ul Anwar harus menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. (FH01)