Beranda ARTIKEL Pandemi Belum Berakhir, Masyarakat Perlu Tingkatkan Kewaspadaan

Pandemi Belum Berakhir, Masyarakat Perlu Tingkatkan Kewaspadaan

119
0
BERBAGI

Ilustrasi (foto: ist)

faktahukum.co.id –  Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) belum berakhir, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Covid-19 merupakan jenis penyakit yang disebabkan oleh coronavirus baru jenis Sars-CoV-2.

Covid-19 pertama kali terjadi di Wuhan Tiongkok pada Selasa 31 Desember 2019 tahun lalu dan mulai masuk ke Negara  Indonesia Senin, tanggal 2 Maret 2020.

Kasus terkonfirmasi Covid-19 sejak Maret hingga saat ini masih terus mengalami peningkatan di Indonesia, mulai dari angka positif, kematian dan kesembuhan. Sehingga berbagai langkah dan upaya pemerintah terus dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Letjen TNI Doni Monardo sebagai Ketua Gugus Tugas percepatan penanganan Covid-19. Ia adalah sosok yang punya peran penting dalam menangani kasus Covid-19 di Indonesia. Ia menghimbau kepada seluruh pemerintah daerah (Pemda) untuk gencar sosialisasi dan pengawasan protokol kesehatan di wilayah masing-masing.

“Terus tingkatkan penerapan disiplin protokol kesehatan di tengah-tengah masyarakat guna menekan angka kasus sekaligus memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” kata Doni Monardo.

Ia mengemukakan bahwa perlu langkah konkrit dan strategis agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan, untuk itu di perlukan seluruh elemen yang terkait dapat menjalankan tugas dan fungsinya.

Tidak hanya di Indonesia, lanjut Doni tapi di berbagai negara di dunia pun sedang berupaya keras melakukan penanganan Covid-19.

“Mari kita bersama-sama satukan visi misi dan langkah dalam mensukseskan dan mendukung kebijakan pemerintah demi kebaikan kita bersama,” ujar Doni.

Anjuran, himbauan pun mulai di galakan di seluruh pelosok negeri, mulai dari mulai penyemprotan disinfektan, wajib memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak hingga penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di laksanakan sesuai kebijakan kepala daerah masing-masing.

“Hal itu tentunya di laksanakan dengan melibatkan berbagai unsur dan sub-sub di instansi pemerintahan dan swasta. Penanganan Covid-19 ini merupakan tanggung jawab bersama, maka semuanya harus terlibat, termasuk warga masyarakat sekalipun,” kata Dwi Sigit Andrian, selaku Ketua Gugus Tugas di tingkat Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi.

Ia mengemukakan bahwa Covid-19 oleh WHO dinyatakan sebagai pandemi dunia dan juga dinyatakan sebagai Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Corona oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Keputusan Nomor 9A Tahun 2020 dan diperpanjang melalui Keputusan Nomor 13A tahun 2020.

“Tentunya, WHO sudah sendiri menyatakan bahwa situasi saat ini merupakan pandemi dunia, begitu pun BNPB telah menyatakan bahwa ini merupakan status darurat bencana wabah Covid-19, untuk itu semua harus tetap waspada dan taati anjuran pemerintah,” ucap Dwi Sigit.

Ia menghimbau untuk seluruh warga masyarakat yang berada di Kecamatan Tarumajaya untuk tetap waspada, bahwa masa pandemi belum berakhir, mamatuhi anjuran pemerintah pada saat pandemi COVID-19 dengan mentaati protokol kesehatan (Prokes) Menggunakan masker, Mencuci tangan dan Menjaga jarak (3M) wajib dilaksanakan.

“Menerapkan 3M menjadi kewajiban untuk seluruh warga demi penyelamatan diri, keluarga dan lingkungan sekitar. Terutama masker menjadi hal yang esensial karena mampu menangkal virus ataupun bakteri yang akan masuk ke mulut ataupun hidung seseorang,” tegas Dwi Sigit.

Selanjutnya Iis Ratna Ningrat selaku bagian Survailans Epidemiologi dan Kesehatan di Puskesmas Tarumajaya menyampaikan bahwa penanganan Covid-19 merupakan tanggung jawab bersama.

“Dalam kondisi pandemi saat ini, kami selalu mengajak warga masyarakat untuk meningkatkan kesadaran diri dalam menerapkan prokes sesuai anjuran pemerintah yaitu 3M karena ini menjadi tanggung jawab bersama,” kata Iis di ruang kerjanya.

Iis menjelaskan tentang gejala-gejala yang dialami oleh orang yang terserang Covid-19 dengan standar deteksi awal sehingga warga masyarakat yang mengalami gejala tersebut dapat langsung dapat malakukan tindakan pemeriksaan kesehatan.

“Orang yang terindikasi virus Corona biasanya akan mengalami beberapa gejala seperti batuk, flu, sakit tenggorokan, sesak napas, lesu dan letih, hilangnya rasa dan penciuman bahkan pada beberapa kasus pasien akan mengalami pneumonia atau masalah pada paru-paru,” tutur Iis.

Seperti penyakit pernapasan lainnya, lebih lanjut Iis mengatakan Virus Corona dapat menyebabkan gejala ringan termasuk pilek, sakit tenggorokan, batuk, dan demam. Tapi sekitar hampir 80% kasus dapat pulih tanpa perlu perawatan khusus.

“Intinya kita harus tetap ikuti panduan pemerintah, yaitu Gunakan masker kain atau standar kesehatan saat berada di luar rumah. Mencuci tangan dengan air mengalir pakai sabun dan Menjaga jarak atau dilarang berdekatan, jaga jarak lebih dari 1 meter dengan orang lain,” imbuh Iis.

Sementara itu, H. Japra warga Tarumajaya yang sempat di nyatakakan postif Covid-19 melalui pemeriksaan test SWAB mengatakan dirinya dapat sembuh kembali setelah melakukan isolasi mandiri.

“Saya dinyatakan positif waktu usai melakukan test Swab di Puskesmas Kecamatan, dan hasilnya di nyatakan positif, lalu saya pun melakukan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari, hingga akhirnya setelah isolasi, ketika di test Swab lagi, saya alhamdulillah negatif,” paparnya.

Selama menajalani isolasi mandiri, H. Japra mengatakan bahwa dirinya terus melakukan hal-hal yang dianjurkan oleh pemerintah, sesuai arahan dari puskesmas kecamatan, hingga test swab menyatakan negatif.

“Jaga pola makan, jaga kesehatan dengan berjemur, support diri sendiri tetap semangat untuk sembuh, taati protokol kesehatan 3M dan Alhamdulillah pada test swab lagi saya di nyatakan negatif,” pungkasnya.

Diketahui negara memiliki kewajiban untuk menanggung seluruh biaya perawatan dan penanggulangan bagi semua pasien Penyakit Infeksi Emerging (PIE), termasuk pasien virus corona, sejak dinyatakan yang bersangkutan merupakan pasien dalam pengawasan (PDP) atau suspek.

Rapid Test atau tes cepat, merupakan langkah awal identifikasi apakah seseorang sedang terinfeksi virus, termasuk SARS-CoV-2 penyebab COVID-19, menggunakan antibodi yang diambil dari sampel darah. Swab dilakukan pada nasofaring dan atau orofarings.

Pengambilan ini dilakukan dengan cara mengusap rongga nasofarings  dan atau orofarings dengan menggunakan alat seperti  kapas lidi khusus.

Adapun PCR adalah singkatan dari polymerase chain reaction. PCR merupakan metode pemeriksaan virus SARS Co-2 dengan mendeteksi DNA virus. Uji ini akan  didapatkan hasil apakah seseorang positif atau tidak SARS Co-2.

Vaksinasi untuk Indonesia

Pemerintah berencana akan melakukan vaksinasi untuk seluruh warga masyarakat Indonesia dengan tujuan untuk menekan peningkatan penyebaran kasus positif Covid-19.

Vaksin saat ini masih dalam tahap uji klinis di Indonesia dan sedang dikembangkan oleh Sinovac Biotech, sebuah perusahaan farmasi swasta China. Perusahaan juga melakukan uji coba vaksin di negara lain termasuk Brasil dan Turki.

Menurut informasi yang di himpun, terkait kepastian pelaksanaan vaksinasi sampai saat ini masih menunggu hasil uji klinis dan kepastian dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Pelaksanan vaksinasi belum dapat di pastikan, menunggu izin dari BPOM, namun pengadaan vaksin di sejumlah negara yang selesai melakukan uji klinis akan di gelar pada bulan Desember,” kata Airlangga Hartanto sebagai Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Penulis: Ade Muksin