Home HUKRIM Koalisi Jurnalis Sultra Gelar Aksi, Cabut Remisi Terpidana Pembunuh Jurnalis

Koalisi Jurnalis Sultra Gelar Aksi, Cabut Remisi Terpidana Pembunuh Jurnalis

272
0
SHARE

Kendari, (faktahukum.co.id) – Keputusan Presiden Jokowi Widodo memberikan Remisi terhadap Susrama, terpidana kasus pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa menuai aksi kekecewaan dari Komunitas Pers, tak terkecuali di Sulawesi Tenggara, Jumat (25/01/19).

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari dan Koalisi Jurnalis Sultra (IJTI) Sultra, PWI Sultra, Pers Kampus dan Penggiat Kebebasan Pers, tolak remisi, menilai keputusan Presiden Jokowi Widodo memberikan remisi kepada pembunuh Jurnalis adalah bentuk langkah mundur penegakkan kemerdekaan Pers.

Keputusan Presiden Joko Widodo tertuang dalam Kepres Nomor 29 tahun 2018 tentang pemberian remisi perubahan dari pidana penjara seumur hidup menjadi pidana sementara tertanggal 7 Desember 2018

Susrama, Satu dari 115 Terpidana Dapat Keringan

Susrama diadili karena kasus pembunuhan terhadap Prabangsa , 9 tahun lalu. Pembunuhan itu terkait dengan berita dugaan korupsi dan penyelewengan yang melibatkannya dan oleh Prabangsa dimuat di Harian Radar Bali, dua bulan sebelumnya.

Berdasarkan hasil penyelidikan polisi, pemeriksaan saksi dan barang bukti di persidangan menunjukkan bahwa Susrama adalah otak dibalik pembunuhan itu. Ia diketahui memerintahkan anak buahnya menjemput Prabangsa di rumah orang tuanya di taman Bali, Bangli 11 February  2009.

Prabangsa lantas di bawa ke halaman belakang rumah Susrama di Banjar Petak, Bebalang, Bangli di sanalah Ia memerintahkan anak buahnya memukuli Prabangsa hingga tewas.

Biadab, dalam keadaan masih bernyawa Prabangsa lantas dibawa ke Pantai Goa Lawa, tepatnya di Dusun Belatung Desa Persinggahan, Kabupaten Klungkung, Prabangsa lantas dibawa naik perahu dan dibuang ke laut, hingga mayatnya ditemukan mengapung oleh awak kapal yang lewat di Teluk Bungsil, Bali, lima hari kemudian.

Prabangsa adalah satu dari banyak kasus pembunuhan Jurnalis di Indonesia, kasus Prabangsa adalah satu dari sedikit kasus yang diusut, sementara delapan kasus lainnya belum tersentuh hukum.

Delapan kasus itu, antaralain Fuad. M. Syarifuddin (Udin), wartawan Harian Bernas Yogya 1996, pembunuhan Herliyanto, wartawan lepas harian Radar Surabaya 2006, kematian Ardiansyah Matrais, wartawan tabloid Jubi dan Merauke tv (2010), dan kasus pembunuhan Alfrets Mirulewan, wartawan tabloid mingguan Pelangi di Pulai Kisar, Maluku Barat Daya (2010).

Berbeda dengan lainnya, kasus Prabangsa ini bisa diproses hukum dan pelakunya divonis penjara. Artinya penuntasan kasus ini adalah sejarah satu satunya dalam penegakkan hukum atas kasus pembunuhan Jurnalis.

Dalam sidang Pengadilan Negeri Denpasar 15 Februari 2010, hakim menghukum Susarama dengan divonis penjara seumur hidup.

Sebanyak delapan orang lainnya yang ikut terlibat, juga dihukum dari 5 tahun sampai 20 tahun. Upaya mereka untuk banding tak membuahkan hasil. Pengadilan Tinggi Bali menolak upaya kesembilan terdakwa, April 2010. Keputusan ini diperkuat oleh hakim Mahkamah Agung pada 24 September 2010.

Namun sejarah penegakan hukum pembunuhan Jurnalis akhirnya pupus seiring dengan kebijakan Presiden Jokowi Widodo, melalui Kepres No. 29 tahun 2018, yang memberi keringanan hukuman kepada Susrama (Sang Pembunuh Jurnalis).

Jurnalis Sultra Nyatakan Sikap atas Putusan Jokowi

Kebijakan Presiden Jokowi Widodo yang memberikan remisi kepada pelaku pembunhan keji terhadap Jurnalis dikecam banyak pihak mengingat fakta persidangan jelas menyatakan bahwa pembunuhan ini terkait berita dan pembunuhannya di lakukan secara terencana.

Susrama di hukum ringan karena jaksa sebenarnya menuntutnya dengan hukuman mati, tapi hakim mengganjarnya dengan hukuman seumur hidup.

Kebijakan Presiden yang mengurangi hukuman itu melukai rasa keadilan tidak hanya keluarga korban tapi nurani Jurnalis seluruh Indonesia.

“Kami meminta Presiden Jokowi Widodo mencabut keputusannya atas pemberian remisi terhadap Susrama, kami menilai kebijakan semacam ini tidak arif dan memberikan pesan yang kurang bersahabat bagi Pers Indonesia,”ucap koordinator aksi.

Dia menilai,”Tak diadilinya pelaku kekersan terhadap Jurnalis, termasuk juga memberikan keringanan hukuman bagi para pelakunya, akan menyuburkan iklim impunitas dan membuat para pelaku kekerasan tidak jera, dan itu bisa memicu kekerasan terus berlanjut,”pungkasnya. (Edison)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here