Beranda ARTIKEL Kekuatan Perempuan Dalam Kepemimpinan

Kekuatan Perempuan Dalam Kepemimpinan

203
0
BERBAGI

Oleh: Dr.Elli Widia.,S.Pd.,MM.Pd

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Ayat diatas menjelaskan semua manusia itu sama, yaitu menjadi khalifah dan menciptakan kemaslahatan di muka bumi. Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.

Sejatinya seorang pemimpin yang memimpin manusia akan bertanggung jawab atas rakyatnya, seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, dan dia bertanggung jawab atas mereka semua, seorang wanita juga pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggung jawab atas mereka semua.

Dan seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya, dan dia bertanggung jawab atas harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya,” (HR Muslim 3408).

Kisah Ratu Balqis. Selain parasnya yang jelita, dia adalah seorang pemimpin bijaksana. Dia sukses memimpin rakyatnya sehingga mereka makmur dan sejatehra. kemudian Asiyah binti Muzahim. Asiyah adalah seorang perempuan yang dipuji karena kemandirian dan ketegasan imannya dalam melawan raja zalim, Raja Firaun. dan Siti Maryam, seorang perempuan terbaik sepanjang masa.

“Siti Maryam dengan ketegasannya menjaga kehormatan dalam dirinya yang membuat Allah memberinya anugerah berupa putra shaleh yaitu Nabi Isa AS,”

Kualitas hidup perempuan di satu dasawarsa terakhir sudah membaik, perempuan Indonesia adalah sumber daya potensial yang apabila diberi kesempatan akan maju dan meningkatkan kualitasnya secara mandiri dan menjadi penggerak dalam dimensi kehidupan dan pembangunan bangsa.

Namun masih ada fakta kurang menyenangkan bagi perempuan seperti masih tinggi tingkat kekerasan pada perempuan, kesenjangan pembangunan antara perempuan dan laki-laki, terbatasnya akses sebagian besar perempuan terhadap fasilitas kesehatan yang lebih baik, pendidikan yang lebih tinggi dan lainya.

Tantangan global ke depan adalah begitu cepatnya perubahan zaman yang sangat dinamis, sehingga dibutuhkan peran wanita untuk menghadapi permasalahan global sehingga diperlukan kepemimpinan yang tangguh.

Saat ini banyak perempuan yang telah menduduki jabatan sebagai pemimpin, akan tetapi untuk tampil sebagai pemimpin banyak hambatan yang seolah-olah tidak terlihat tetapi dalam kenyataannya merintangi akses dalam menuju kepemimpinan puncak, seperti Isu gender dan ketidakadilan, sifatnya melekat dan dikonstruksi secara sosial maupun kultural.

Kendala bagi kaum wanita terdapat beberapa faktor yaitu faktor eksternal seperti
Sistem sosial dimana kodrat perempuan dianggap lebih rendah dari laki-laki, nilai-nilai budaya yang menyatakan perempuan menjadi orang kedua, dan sikap laki-laki terhadap feminisme yang beranggapan perempuan tidak menjadi pesaing tapi pendamping.

Sedangkan untuk aktor internalnya dari dalam diri perempuan sendiri kekuatan ingin menyamai laki-laki dan jika perlu melampaui laki-laki.

Di masa sekarang, perempuan tidak lagi menjadi kaum terbelakang dengan stereotip-stereotip lama yang mengekang. Sebagai contoh, perempuan yang dulu identik dengan tiga hal yaitu: dapur, sumur, dan kasur.

Dalam Islam, kedudukan perempuan dan laki-laki adalah sama. Sama-sama makhluk Allah, sama-sama menyembah Allah, dan pahala mereka sesuai dengan ujian dan perbuatan mereka.

Allah berfirman: “Orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan (berbuat) apa yang benar dan melarang apa yang salah dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan mendapatkan rahmat Allah. Sungguh, Allah Ta’ala Mahaperkasa dan Mahabijaksana,” (QS. At-Taubah ayat 71).

Perempuan masa kini mengenyam pendidikan tinggi. Bahkan saat ini, perempuan menjadi ujung tombak perekonomian negara. Misalnya saja seperti di Indonesia, kontribusi terhadap ekonomi banyak disumbang oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perempuan.

Zaman sudah modern dan perempuan saat ini tidak lagi hanya berkutat dengan pekerjaan domestik di rumah. Perempuan semakin sadar akan haknya dan menyadari dirinya punya kemampuan yang sama dengan laki-laki untuk melakukan banyak hal.

Dari tahun ke tahun kesenjangan peran antara perempuan dan laki-laki perlahan ditinggalkan. Gerakan meninggalkan kesenjangan gender ini didukung oleh The United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women, atau biasa disebut UN Women.

Perempuan harus mampu berperan dan memberikan kontribusi yang setara dengan laki-laki terutama dalam bidang pembangunan nasional. Hal tersebut sebagai bentuk emansipasi perempuan dalam mewujudkan kesetaraan.

Perempuan adalah makhluk Tuhan yang menyimpan rasa kasih sayang dan sikap lemah lembut. Perasaan yang sensitif akan banyak hal, menjadi salah satu hal yang membuatnya peduli pada sekitarnya.

Namun demikian, hal ini nggak lantas bisa diartikan perempuan selalu lemah dalam kemampuannya. Justru sikap itulah yang mampu meluluhkan banyak hal dan membuat seorang perempuan semakin hebat.

Seperti kata mutiaran menyejukkan “Dunia membutuhkan wanita yang kuat. Wanita yang akan mengangkat dan membangun orang lain, yang akan mencintai dan dicintai. Wanita yang hidup dengan berani, baik lembut dan ganas. Wanita dengan tekad yang kuat.” ***