Beranda BERITA UTAMA Kapolri Jenderal Tito Karnavian: Berbicara Isu Harus Dilihat Konteksnya, Produktif atau Kontraproduktif

Kapolri Jenderal Tito Karnavian: Berbicara Isu Harus Dilihat Konteksnya, Produktif atau Kontraproduktif

1573
0
BERBAGI
Kepala Kepolisian Negara (Kapolri) Jenderal Drs Haji Muhammad Tito Karnavian MA, PhD (foto ist)

Purwokerto (FHI) – Jenderal Pol Tito Karnavian, seperti dilansir dari antaranews.com, usai  pidato ilmiah dalam acara wisuda sarjana dan pasca sarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menyampaikan agar semua pihak tidak mengangkat isu-isu yang bersifat sensitif karena dapat membuka kembali luka lama.

Kapolri mengatakan kepada wartawan,”Saya berharap bahwa isu-isu ini, sebaiknya semua pihak menahan diri, jangan kemudian menampilkan isu ini di tengah situasi kita yang rentan, mau ada pilkada, mau ada pilpres, mau ada peringatan G30S,” katan Jenderal Tito.

Terkait dengan berbagai isu sensitif seperti komunisme yang kembali mencuat.Menurutnya, ideologi komunisme di tingkat global sekarang sudah meredup. Bahkan Rusia dan China pun sudah mengarah ke sistem kapitalis.Namun khusus konteks Indonesia, prinsip Kepolisian adalah berpegang kepada aturan hukum yang ada.

“Tap MPR ditambah dengan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999 itu aturan hukum yang ada saat ini, tentang penyebaran ideologi termasuk marxisme, leninisme, komunisme jelas dilarang. Jadi, sepanjang ada upaya penyebaran itu, bagi Polri penegakan hukum akan di laksanakan,” jelasnya.

Kapolri mengharapkan semua pihak menahan diri untuk tidak mengangkat isu-isu sensitif tersebut karena dapat membuka kembali luka lama. Menurut dia, hal itu bukan berarti melupakan sejarah tetapi ada waktu yang tepat untuk membicarakan isu-isu tersebut.

“Kembalikan saja ke penegakan-penegakan hukum. Kalau ada informasi tentang penyebaran ideologi, kami akan melakukan tindakan tegas sesuai dengan aturan hukum yang berlaku oleh penegak hukum, khususnya Kepolisian,”katanya.

Dalam hal ini, kata dia, setiap membicarakan isu harus dilihat konteksnya, apakah produktif atau kontraproduktif.”Kira-kira akan banyak bermanfaat bagi masyarakat atau justru kurang bermanfaat,” tegasnya.

Lebih lanjut, Kapolri mengatakan negara lain dalam kompetisi global sudah bicara soal kompetisi antarnegara. Artinya, negara yang mampu solid di dalam, mereka akan lebih mampu bersaing secara eksternal dengan negara lain.

Sementara negara yang “cakar-cakaran” tidak solid di dalam, akan kalah dengan negara yang lebih solid sehingga akan dipengaruhi.”Oleh karena itu di dalam negeri, kita harus solid sehingga ketika ada isu-isu yang sensitif, lihat konteksnya dulu, timing-nya tepat atau tidak,” katanya. (ant/sum/red)