Beranda ARTIKEL Jangan Banyak Berharap Terhadap Pelabuhan Patimban

Jangan Banyak Berharap Terhadap Pelabuhan Patimban

59
0
BERBAGI

Oleh: Siswanto Rusdi

Pelabuhan Patimban di Subang Jawa Barat yang direncanakan akan beroperasi pada Juni 2020 diproyeksikan oleh Pemerintah menjadi hub terbesar untuk pengiriman otomotif dan logistik.

Harapan yang cukup fantastik itu langsung disampaikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika meninjau pembangunan pelabuhan tersebut.

Dengan didampingi oleh Menteri Perhubungan (Menhub) dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Presiden melontarkan ekspektasinya itu terhadap pelabuhan yang dibangun dengan biaya lebih kurang Rp 40 triliun tersebut.

Harapan Presiden itu boleh dibilang sangat berlebihan di tengah kondisi perekonomian nasional saat ini. Siapapun tidak perlu mengumbar harapan besar pada pelabuhan ini.

Saya berpendapat, sebaiknya tidak perlu mengumbar harapan besar pada Patimban. Menjadi hub terbesar tentu berkaitan juga dengan logistik dan industrinya.

Contohnya, Pelabuhan Kuala Tanjung yang ada di tepi Selat Malaka. Hingga hari ini jumlah kapal yang singgah di sana belum sesuai ekspektasi yang dicanangkan.
Kuala Tanjung sampai sekarang belum bisa bersaing dengan Singapura atau Tanjung Pelepas dan Port Klang Malaysia, padahal dulu juga dicanangkan menjadi hub terbesar di Selat Malaka.

Sementara Pelabuhan Patimban yang posisinya dekat dengan Jakarta juga diprediksi sulit bersaing dengan Tanjung Priok. Di barat ada Tanjung Priok, terus di timur ada Tanjung Perak di Surabaya, sehingga Patimban sulit bersaing.

Selanjutnya, di tengah perang dagang antara Amerika dan China, saya menilai harapan pemerintah untuk menjadikan Patimban sebagai hub terbesar di tahun 2027 sulit tercapai.

Perekonomian kita ini sekarang sedang terpuruk dan industri sedang lesu. Tiba-tiba ada wacana menjadikan Patimban sebagai hub terbesar untuk otomotif dan logistik. Saya memprediksi harapan itu sulit dicapai sebab kapal mana yang mau singgah di pelabuhan itu.

Proyek Pembangunan Pelabuhan Patimban secara keseluruhan dilakukan dalam tiga tahap. Pada tahap 1 fase 1 akan diselesaikan pada bulan November 2020 dengan kapasitas 218.000 kendaraan untuk terminal kendaraan dan 250.000 TEUs untuk terminal peti kemas.

TEU (twenty-foot equivalent unit) yang diterjemahkan menjadi “unit ekuivalen dua puluh kaki”) itu sendiri merupakan sebuah satuan kapasitas kargo dan sering digunakan untuk mendeskripsikan kapasitas kapal peti kemas dan terminal peti kemas.

Satuan ini didasarkan pada volume peti kemas berukuran 20-kaki-long (6,1 m).
Kemudian terkait Proyek Pembangunan Pelabuhan Patimban, dilanjutkan dengan pengembangan pada tahap 1 fase 2 yang ditargetkan pada tahun 2021-2023, dengan kapasitas optimum untuk 600.000 kendaraan dan kontainer sejumlah 3,75 juta TEUs.

Sementara itu tahap 2 dan tahap 3 akan dilakukan pada 2024-2027 dengan pengembangan terminal peti kemas hingga mencapai kapasitas maksimal, yaitu di atas 7 juta TEUs.

Total luas pelabuhan ini adalah 654 hektar dengan rincian 300 hektar untuk terminal peti kemas dan terminal kendaraan serta 354 hektar akan diperuntukkan back up area berisi area pergudangan, perkantoran, pengelolaan, dan area bisnis.

Penulis, Direktur National Maritime Institute (Namarin)