Beranda EKONOMI Harga Daging Melonjak, Ribuan Pedagang Bakso Terancam Bangkrut

Harga Daging Melonjak, Ribuan Pedagang Bakso Terancam Bangkrut

867
0
BERBAGI

Kab. Bekasi, (faktahukum.co.id) – Menyikapi kondisi perekonomian Indonesia saat ini, dampak dari mogok jualan para pedagang daging sapi se-Jabodetabek, kini harga daging sapi menjadi naik akibat rendahnya supplai kepasaran.

Bahkan dipasaran terjadi kelangkaan bahan pangan, seperti tempe, tahu, toge, serta melambungnya harga cabe rawit yang mencapai harga 90.000/kg, harga Ayam Rp 28.000/kg, daging sapi segar Rp 125.000/kg, daging sapi import Rp 80.000/kg.

Imbas melonjaknya bahan pangan tersebut, banyak pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di sektor kuliner yang berbahan baku daging sapi mengeluh. Salah satunya ribuan penjual bakso mogok berjualan, akibat mahalnya bahan baku.

Sementara ribuan pedagang bakso dan pelaku usaha UMKM lainnya, tidak bisa menaikkan harga jual, karena daya beli masyarakat yg rendah akibat pandemi Covid-19. Selama PSBB dan PPKM omzet mereka juga turun dratis hingga 50% dari omzet biasanya.

Selain menurunnya omzet penjualan, juga karena jam operasional jualan para pelaku usaha UMKM yang dibatasi pengunjung makan ditempat (Dine-in) dan waktunya, sehingga secara otomatis pendapatan/omzet dan Rejeki mereka berkurang.

Sedangkan carut marut tata kelola niaga daging sapi di Indonesia terjadi sejak tahun 2004. Karena banyak dikuasai oleh mafia/kartel daging sapi, baik sapi hidup ataupun daging sapi beku import. Padahal pada masa pemerintahan Susilo Bambng Yudoyono (SBY) mencanangkan pada tahun 2024 Swasembada daging sapi.

“Buruknya tata kelola niaga daging sapi, kini menyebabkan masyarakat kecil yang seharusnya bisa membeli daging sapi dangan harga yang murah, tetapi faktanya harga daging sapi mahal dan tidak terjangkau oleh rakyat kecil. Hanya di Era kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Pak Ahok rakyat kecil mendapatkan subdisi untuk membeli daging sapi dengan harga yang murah,” urai Sekjen Pengusaha Mie dan Bakso Indonesia (Papmiso) Bambang Hariyanto.

“Begitu juga dengan regulasi dan pejabat pelaksana yang lebih condong mempermudah proses import dari pada pemberdayaan dan perlindungan terhadap para peternak sapi lokal, yang sebenarnya Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusianya (SDM) sangat kaya dan mumpuni. Serta hasil daging sapinya lebih berkualitas dengan harga yang lebih murah,” lanjut Bambang.

“Kami selaku perwakilan Asosiasi Pedagang Bakso Indonesia, memohon Kepada yang terhormat Bapak Presiden Jokowi agar segera membuat regulasi dan membenahi tata kelola niaga daging sapi di Indonesia ini, dengan harapan agar rakyat kecil, Pedagang Kecil dan peternak Sapi lokal bisa mendapatkan harga daging sapi yang lebih murah dan berkualitas super. Sehingga akhirnya Indonesia bisa Swasembada daging Sapi pada tahun 2030,” tungkas Bambang.

Penulis : Hend
Editor : Bonding Cs