Beranda BERITA UTAMA Direktur Namarin: Proses lelang operator Patimban harus adil

Direktur Namarin: Proses lelang operator Patimban harus adil

82
0
BERBAGI

Jakarta (faktahukum.co.id) – Direktur National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi mengingatkan agar Pemerintah memberikan “equal treatment” (perlakuan yang sama) terhadap semua entitas bisnis yang berminat dan tertarik mengikuti proses lelang operator Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat.

Siaran pers Direktur Namarin yang diterima di Jakarta, Kamis (15/10/20) menyebutkan, dengan memberi kesempatan yang sama, Kementerian Perhubungan sebagai pemilik proyek bisa leluasa menentukan siapa yang paling kompeten untuk menjadi operator pelabuhan yang merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional itu.

Ia menjelaskan, pelabuhan sebagai bagian dari mata rantai logistik memiliki peran sentral dalam perekonomian nasional. Oleh karena itu harus ada perlakuan yang sama, baik untuk kalangan swasta murni, perusahaan PMA maupun BUMN yang ingin menjadi operator Pelabuhan Patimban.

Menurut dia, saat ini muncul kesan bahwa pemerintah menomorduakan BUMN, khususnya Pelindo dalam proses lelang operator Pelabuhan Patimban, padahal beberapa BUMN sejak awal sudah menyatakan minat dan ketertarikannnya untuk terlibat dalam kegiatan operasional di Patimban.

Siswanto mengingatkan bahwa pemerintah harus memiliki indikator yang terukur dalam menentukan siapa yang akan menjadi operator Pelabuhan Patimban. Indikator-indikator itu harus bisa dipakai untuk mengukur kapabilitas, baik secara teknis dan operasional, maupun kemampuan keuangan perusahaannya.

Siapapun operator yang terpilih nantinya harus mampu membangun dan mengelola ekosistem logistik, sebagaimana yang sekarang terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok. Operator Patimban harus siap memfasilitasi arus keluar-masuk barang dari berbagai wilayah produktif terutama di utara Jawa Barat, seperti Subang, Indramayu, Cirebon, Brebes, dan sekitarnya.

Ia menambahkan, paradigma dunia kepelabuhanan sudah berkembang pesat dalam dua dekade terakhir. Pelabuhan sudah tidak lagi semata-mata bekerja sebagai tuan tanah yang melayani sandar kapal dan bongkar-muat.

Industri kepelabuhanan sudah bergerak jauh sebagai mata rantai logistik yang berperan sebagai fasilitator perdagangan antarpulau, antarnegara, bahkan antarbenua. Di banyak tempat, pelabuhan membangun jejaring khusus dengan pihak pelayaran (liner) dan industri.

“Jadi, operator tak akan cukup kalau sekadar punya SDM, alat, serta sistem kerja. Operator pelabuhan dituntut memiliki kapabilitas membangun industri kepelabuhanan yang efektif dan efisien, dan kuncinya ada pada jejaring dan pengalaman,” kata Siswanto.

Penulis: Ad’M Editor: Adunk