Beranda ARTIKEL COVID-19 MASIH ADA, WARGA INDONESIA TETAP WASPADA

COVID-19 MASIH ADA, WARGA INDONESIA TETAP WASPADA

3356
0
BERBAGI

Ilustrasi (istimewa)

BEKASI (faktahukum.co.id) – Coronavirus Disease 2019 atau disingkat Covid-19 masih ada, warga negara Indonesia dituntut tetap waspada. Persebaran virus masih terus meningkat, pemerintah berupaya menyelamatkan rakyatnya.

Diketahui Covid-19 jenis penyakit yang disebabkan oleh virus dari golongan coronavirus, yaitu SARS-CoV-2 juga sering disebut virus Corona yang dapat menyebabkan gangguan sistem pernapasan, mulai dari gejala ringan seperti flu, hingga infeksi paru-paru, seperti pneumonia.

Penyakit ini pertama kali terjadi di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Setelah itu, COVID-19 menular antarmanusia dengan sangat cepat dan menyebar ke puluhan negara, termasuk Indonesia, hanya dalam hitungan bulan.

Beraneka ragam regulasi dan sosialisasi digencarkan demi memutus mata rantai penularan Covid-19 yang semakin meninggi. Grafik kematian dan kesembuhan jadi perhatian serius negara.

Gerakan Perilaku disiplin Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak dan Menghindari kerumunan (3M) terus di sosialisasikan untuk menekan penyebaran virus Covid-19.

Selanjutnya gerakan protokol kesehatan ditambahkan sebagai pelengkap aksi 3M. yaitu Memakai masker, Mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan, serta Membatasi mobilisasi dan interaksi atau disebut 5M.

Hal tersebut diungkapkan pula oleh Epidemiologi Indonesia di Griffith University Australia Dicky Budiman bahwa Indonesia seharusnya sudah tidak lagi menggaungkan 3M sebagai langkah mengantisipasi penyebaran Covid-19.

Berkaca pada adanya ledakan-ledakan setelah libur panjang, Dicky menyarankan agar Indonesia kini menambah strategi pencegahan dari 3M menjadi 5M.

MUDIK, WISATA DAN ARUS BALIK TETAP DIBIDIK
Mudik lebaran ditengah suasana Covid-19 masih tetap dianggap merupakan sebuah tradisi tahunan untuk warga perantau pulang menuju ke kampung halaman masing-masing.

Ribuan perantau dari berbagai kota mempersiapkan diri kembali ke desa dengan tujuan untuk berkumpul bersama keluarga besarnya di kampung halaman.

Namun para pemudik dalam dua tahun terakhir ini dihadapkan dengan realita Covid-19 yang masih tetap ada, sehingga peraturan-peraturan super ketat pun oleh pemerintah diciptakan demi keselamatan rakyatnya.

“Kami mau mudik, ini sudah tradisi kami kembali berkumpul dengan sanak saudara di kampung, namun dengan adanya aturan, maka kami pun harus mengurungkan dan mematuhi aturan itu,” kata Asep Mutaqin (39) warga Tasikmalaya Jawa Barat.

Hal itu dilakukan karena bahwa negara Indonesia masih diselimuti dan dibayang-bayangi penyakit menular dan mematikan Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19.

Penyebarannya yang sangat cepat membuat beberapa negara di dunia menerapkan kebijakan untuk memberlakukan aturan-aturan demi mencegah penyebaran virus Corona.

Di Indonesia, pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hal ini dilakukan sejak awal untuk menangani dan menekan penyebaran COVID-19 di Indonesia.

MUDIK
Untuk menghindari terjadinya kerumunan-kerumunan yang dapat menjadi klaster pemudik penularan Covid-19 di daerah, pemerintah Indonesia menerbitkan Surat Edaran (SE).

Dengan merujuk pda Surat Edaran Nomor 13 tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik Hari Raya Idul Fitri dan Upaya Pengendalian Covid-19 selama Ramadhan, pemerintah resmi meniadakan mudik tahun 2021.

“Ya memang di larang untuk mudik, tapi sebelumnya kami melakukan apa yang di sarankan pemerintah, tes antigen dan kami dinyatakan sehat, alhamdulillah sehat,” tutur HM Abdulah (47) pemudik asal Cianjur Jawa Barat.

Meskipun mudik ditiadakan, namun tetap ditemukan pemudik yang nekat melakukan mudik. Dengan berbagai alasan yang timbul dari para pemudik, akhirnya tetap bisa lolos dari penyekatan yang ketat dari petugas.

WISATA
Berbagai tempat wisata di Jakarta maupun di berbagai daerah lain dibuka dan diserbu ribuan pengunjung wisatawan lokal pada hari pertama dan kedua lebaran.

“Kami liburan ke Ancol, pada hari kedua lebaran, memang membludak pengunjung disana, tapi ketat juga aturannya, yaitu harus KTP DKI, cek suhu tubuh, orang luar DKI tidak boleh masuk,” ucap Rita Anisah (29) warga Cakung Jakarta Timur.

Dilokasi wisata akhirnya berjubel dan kerumunan pun akhirnya terjadi tak dapat di hindari dan rentan penularan Covid-19. Sehingga di hari ketiga paska lebaran, tempat wisata tersebut ditutup kembali untuk dilakukan evaluasi karena ditemukan maraknya pelanggaran protokol kesehatan (prokes).

BALIK MUDIK HARUS SEHAT
Arus balik para pemudik mulai kembali ke kota. Dalam perjalanan, pengetatan pemeriksaan kesehatan pun dilakukan di berbagai titik untuk memastikan bahwa pemudik yang kembali ke kota dalam kondisi sehat.

“Saya setuju sekali dengan aturan tersebut, untuk memastikan bahwa kami kembali setelah mudik tetap sehat dan siap kembali kerja,” imbuh Purnomo Syahputro (39) perantau asal Solo Jawa Tengah.

Bahkan wilayah tempat dimana para pemudik tinggal pun menerapkan aturan super ketat yang di lakukan oleh pemerintah baik ditingkat Kelurahan, RT, RW setempat.

Pengetatan aturan tersebut untuk memastikan bahwa para pemudik yang kembali ke kota diwajibkan untuk membawa surat sehat atau bebas Covid-19.

APRESIASI
Pemerintah Indonesia tetap melakukan pengetatan aturan dalam menangani dan menghindari penyebaran virus Corona hingga ke tingkat daerah. Himbauan Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga arak (3M) terus digalakkan tanpa lelah.

“Niat baik pemerintah untuk melindungi rakyatnya dari virus mematikan tersebut, patut kita apresiasi. Meskipun dicaci, dimaki, di kritisi, pemerintah tanpa lelah terus himbau rakyatnya agar taat aturan prokes,” tutur Ibrahim salah satu tokoh masyarakat di Tarumajaya Kabupaten Bekasi.

Covid-19 masih ada, tingkatkan kewaspadaan, jaga kesehatan dan tetap berdo’a optimis bahwa Covid-19 segera sirna.

Penulis: Ade Muksin