Beranda KESEHATAN Bupati Sukabumi Instruksikan Dinkes Antisipasi Difteri

Bupati Sukabumi Instruksikan Dinkes Antisipasi Difteri

590
0
BERBAGI
Terjangkit penyakit Difteri

Sukabumi, (faktahukum.co.id) – Dalam beberapa pekan terakhir ini, berbagai daerah Indonesia dilaporkan mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) terjangkitnya penyakit Difteri. Mewabahnya penyakit itu, kini sudah mulai merambat ke Kabupaten Sukabumi.

Bupati Sukabumi H. Marwan Hamami merasa prihatin dan segera mengambil langkah dan tindakan antisipasi penyebaran wabah tersebut, dirinya mengaku telah mengintrusikan Dinas Kesehatan untuk segera menangani hal tersebut.

“Melihat kasus ini semua pihak wajib ikut mendukung dalam pencegahan terutama instansi yang berkompeten menangani kesehatan serta bertanggung jawab dalam teknis pekerjaan,” ujarnya.

Tak hanya itu, Bupati juga meminta pengelola informasi publik dan media untuk membantu menyebarkan informasi terkait gejala yang ditimbulkan serta upaya dalam pencegahan dari penyakit tersebut.

“Kominfo dan humas minta semua media untuk bisa menginformasikan tentang cirri-ciri gejala yang timbul serta pencegahannya dari wabah penmyakit difteri, agar masyarakat faham dan mengerti bagaimana cara menangani penyakit tersebut,” pintanya.

Ditempat Terpisah, Ella Karmila Selaku Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat mengaku telah melakukan upaya promotif dalam menghadapi KLB difteri ini. “Bidang Kesmas telah menghimbau ke Puskesmas untuk melakukan penyuluhan secara intensif terhadap isue aktual penyakit difteri,” ungkapnya.

Ella juga mengaku telah melakukan ‘talk show’ secara life melalui siaran radio serta membuat artikel pada media cetak sebagai layanan informasi publik. Ia menjelaskan ciri-ciri secara umum yang dapat ditemui dan dikenali sebagai gejala difteri, yaitu Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel, demam dan menggigil, sakit tenggorokan dan suara serak, sulit bernapas atau napas yang cepat, pembengkakan kelenjar limfe pada leher, lemas dan lelah,  pilek yang awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

Sementara untuk pencegahannya, menurut ella bisa dengan melakukan imunisasi sehingga penyakit difteri bisa di cegah. “Imunisasi mudah didapat di posyandu atau puskesmas terdekat, bagi yang belum memiliki riwayat imunisasi lengkap ,segera datangi puskesmas atau layanan kesehat lain untuk mendapat imunisasi ulang,” terangnya.

Diketahui bahwa Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DTP. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DTP.

Selanjutnya bagi Orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksin Td atau belum lengkap status imunisasinya, diberikan 1 dosis vaksin Tdap diikuti dengan vaksin Td sebagai penguat setiap 10 tahun.

Orang dewasa yang sama sekali tidak diimunisasi, diberikan dua dosis pertama dengan jarak 4 minggu dan dosis ketiga diberikan setelah 6 sampai 12 bulan dari dosis kedua.Orang dewasa yang belum menyelesaikan tiga dosis vaksin Td seri primer diberikan sisa dosis yang belum dipenuhi,terangnya. (ich)