Beranda ARTIKEL Bahaya LGBT

Bahaya LGBT

96
0
BERBAGI

Dr. Yayah Rukhiyah, M.Pd (Dok. pribadi).

                   Oleh Dr. Yayah Rukhiyah, M.Pd

Pengibaran bendera yang dianggap perlambang kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Kedutaan Besar Inggris di Jakarta baru-baru ini menunjukkan betapa luar biasanya kelompok LGBT dalam berjuang untuk bagaimana agar mereka diterima secara luas oleh masyarakat internasional.

Dalam Instagramnya, Kedutaan Besar Inggris juga mengutip pendapat kaum LGBT yang menyatakan, ”Kami ingin hidup di dunia yang bebas dari segala jenis diskriminasi”. Pernyataan itu jelas menunjukkan betapa ancaman LGBT tidak bisa diangggap ringan dan tentunya tidak bisa didiamkan.

Dalam kaitan ini Psikiater Dr. Fidiansyah dalam bukunya “Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ)” halaman 228 mengemukakan, homoseksual dan biseksual termasuk dalam gangguan psikologis dan perilaku yang berhubungan dengan perkembangan dan orientasi seksual.

Dr. Fidiansyah juga mengingatkan bahwa LGBT sebagai penyakit atau gangguan jiwa bisa menular, tetapi sejatinya bisa disembuhkan. Penularan penyakit tersebut bukan terjadi melalui virus dan bakteri, tetapi dari perubahan perilaku dan pembiasaan.

Terkait LGBT, dahulu umat Nabi Luth Alaihissalam dihancurkan karena melakukan perbuatan yang sangat dimurkai Allah SWT, yakni melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis (homoseksual). Walaupun sudah diperingatkan oleh Nabi Luth, umatnya tidak mau menuruti perintah tersebut sehingga Allah menimpakan azab pedih terhadap mereka.

Kisah diazabnya umat Nabi Luth terdapat dalam surat Al-Anbiya:74-75, Hud: 82-83, dan Al-Qamar: 33-38. Berbagai penelitian menunjukkan, peristiwa atau lokasi kejadian diazabnya umat Nabi Luth itu adalah Kota Sodom, di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Laut Mati atau di Danau Luth yang terletak di perbatasan antara Israel dan Yordania.

Berikut ini sekelumit cerita mengenai dihancurkannya umat Nabi Luth sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran. “Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS Asy-Syu’araa {26}: 165-166).

Peringatan keras Nabi Luth itu justru ditentang oleh umatnya. Bahkan tatkala Allah SWT mengutus dua malaikat dalam wujud manusia kepada Nabi Ibrahim dan Luth (QS Adz-Dzaariyaat {51}: 32, Hud {11}: 62-81), mereka malah meminta Luth untuk menyerahkan kedua tamunya itu untuk dinikahkan kepada mereka.

Lalu Allah menghancurkan umat Nabi Luth akibat perbuatannya itu. Dalam surah Hud ayat 82 dijelaskan, umat Nabi Luth dihancurkan dengan cara dijungkirbalikkan (yang atas ke bawah, dan bawah ke atas), lalu dihujani dengan batu belerang yang terbakar secara bertubi-tubi.

Kisah tentang Nabi Luth dan kaum Sodom secara lebih lengkap dapat ditemukan dalam beberapa surat dalam Al-Quran. Di antaranya pada surat Al-A’raf, Hud, Al-Hijr,As-Syu’ara, An-Naml, Al-Ankabut, As-Shaffat, dan Al Qamar.

Nama Nabi Luth sendiri disebutkan dalam Al-Quran sebanyak 27 kali. Nabi Luth adalah keponakan dari Nabi Ibrahim. Nabi Luth sejatinya bukanlah dari bangsa Sodom.

Seperti gaya hidup dan upaya pencegahannya

Perilaku homoseksual seperti yang dilakukan umat Nabi Luth ternyata saat ini sudah seperti gaya hidup, padahal perilaku tersebut sangat jelas menyimpang dari segi norma dan agama. Sangatlah disayangkan sebagian dari masyarakat menganggapnya sebagai perilaku biasa saja.

Ketika populasi kaum homosex semakin banyak, para orangtua umumnya baru tersadar bahwa perilaku homoseksual telah mengancam generasi muda. Di Indonesia, wacana pengusungan undang-undang LGBT pun sedang ditabuh begitu keras dengan alasan hak asasi manusia (HAM).

Sementara itu secara medis jelas dikatakan bahwa perilaku homoseksual adalah penyumbang penyakit HIV AIDS dan penyakit seksual menular lainnya yang kebanyakan menyasar kalangan remaja. Kelompok LGBT juga sudah mempunyai komunitasnya sendiri dan terus melakukan propaganda masif untuk menambah jumlah kaumnya.

Dengan semakin canggihnya teknologi saat ini, kaum LGBT pun semakin mudah dan gampang mencari “mangsa”, terutama melalui Instagram, Youtube, Facebook, dan platform media sosial lainnya.

Di sisi lain anak-anak dan remaja saat ini dengan mudah dapat mengakses semua situs kaum LGBT tanpa sepengetahuan orangtua dan anggota keluarga lainnya, sementara sarana dan prasarana umum seperti fitness center, salon kecantikan, cafetaria, dan mall pun menjadi tempat berkumpulnya kaum LGBT.

Dalam upaya memperluas pengaruhnya, kelompk LGBT juga sering mengiming-imingi anak-anak dan remaja dengan barang-barang berharga seperti handphone terbaru, sepeda motor, pakaian bagus dan mahal, dan jam tangan mahal.

Masalah terkait yang juga harus diwaspadai saat ini dan mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya ialah banyaknya lelaki tuna susila yang lebih dikenal dengan sebutan “gigolo”. Selain menjadi pemuas nafsu para perempuan kesepian, mereka juga melayani kaum LGBT. Mereka mengaku terjun ke “dunia hitam” itu umumnya karena alasan ekonomi.

Para gigolo pada umumnya memiliki tubuh atletis, berotot, tampan, putih bersih, dan penampilan selalu harum dan rapi. Mereka selalu menjaga penampilan dengan berbagai cara agar dapat menarik perhatian kaum LGBT.

Yang perlu diketahui juga adalah bahwa kaum LBGT mempunyai beberapa slogan candaan yang membuat orang mengerutkan dahi dan terkejut. Misalnya: “Kami memang tidak beranak, tetapi kami berkembang biak”, atau “Main perempuan bisa bikin anak, tetapi main sesama jenis bisa bikin enak”. Astaghfirullaahal A’dziim….

Semua masalah ini harus menjadi perhatian serius para orangtua dan anggota keluarga lainnya. Maka, tidak ada cara lain kecuali anak-anak dan remaja harus dibentengi dengan pengetahuan ajaran agama yang baik dan benar, baik di rumah dan di sekolah maupun di lingkungan masyarakat sekitar tempat tinggalnya.

Mereka juga harus diberikan pengetahuan dan pendidikan seks secara bertahap sesuai umur masing-masing serta harus mendapatkan pendidikan sosial tentang pergaulan yang baik dan wajar antara laki-laki dan perempuan.

Dalam kaitan ini, Al-Khairiyah sebagai salah satu Ormas Islam yang menjunjung tinggi norma-norma hukum dan agama serta adat istiadat menolak keras perilaku homoseksual yang jelas-jelas merusak tatanan kehidupan anak bangsa.

Penulis, Dr. Yayah Rukhiyah, M.Pd adalah Pengurus Besar Al-Khairiyah Bidang Pengembangan Pendidikan, Kebudayaan dan Pondok Pesantren.