Beranda RAGAM DAERAH Anak-anak Simaruok Didik Mandiri Dalam Bermain Sambil Menambang Batu Apung

Anak-anak Simaruok Didik Mandiri Dalam Bermain Sambil Menambang Batu Apung

767
0
BERBAGI

Agam, Sumbar (faktahukum.co.id) – Anak-anak di Dusun Simaruok Jorong II, Nagari Garagahan, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, lebih senang menghabiskan waktu pulang sekolahnya dengan mengumpulkan batu apung di Batang air Kalulutan.

Sepintas, orang akan beranggapan hanya sekumpulan bocah yang sedang menikmati masa kecilnya bermain dan mandi di sungai. Namun jika ditelusuri dari dekat, akan tampak sekumpulan anak kecil yang merasa senang menenteng ember berukuran sedang sambil hilir mudik memunguti batu-batu ringan di sepanjang aliran sungai.

Salah seorang tokoh masyarakat setempat, Darmalion mengatakan, 75 persen masyarakat Dusun Simaruok berprofesi sebagai penambang pasir, batu dan kerikil. Sehingga pekerjaan tersebut juga sudah menjadi hal yang wajar untuk anak usia belia bagi warga setempat.

Menurut Darmalion, “Menambang batu apung sudah menjadi kebiasaan bagi bocah di wilayah setempat, diusia dini mereka sudah dididik mandiri dan mencari uang jajan sendiri, itu sudah menjadi tradisi, bahkan ada yang tetap menambang batu hingga lulus SMA,” ujarnya saat berbincang-bincang. Sabtu, (28/4/2018).

Permukaan sungai batang kalulutan cukup dangkal dengan aliran air tidak begitu deras sehingga tidak membahayakan bagi keselamatan mereka, Tidak hanya itu hidup di tepi sungai membuat anak Dusun Simaruok sudah terlatih berenang.

Reyhan (11) salah satu bocah yang senang menghabiskan waktu senggangnya di sungai batang kalulutan. Pelajar kelas IV SDN 54 Ujung Labuh Garagahan itu mengaku pekerjaan tersebut tidak menggangu pendidikannya, karena dilakukan usai pulang sekolah, bahkan ia termasuk siswa yang memperoleh rangking di sekolahnya.

Selepas pulang menuntut ilmu, 6 temannya sudah menunggunya di depan rumah. Pelajar yang duduk di bangku kelas IV SD itu merupakan anggota tertua di kelompoknya, jadi Reyhan yang memimpin teman-temannya. Ia juga bertugas sebagai pengemudi pedati dan menyusun batu kapur, sedangkan 6 anggota yang lain sebagai pengumpulnya. Kepiawaiannya dalam mengemudi pedati sudah tidak diragukan lagi, ia mampu mengantarkan 6 penumpangnya dalam keadaan selamat sampai ke tujuan.

Usai makan siang, Reyhan langsung mengeluarkan kerbau kesayangannya yang sudah jinak dan pedati andalannya, tanpa komando lagi, 6 rekannya lansung menaiki pedati menuju sungai. Sesampai di lokasi, kerbau kesayangannya diikat di tepi sungai dan sesekali dipindahkan, rumput hijau yang tumbuh di sekitar aliran batang kalulutan cukuplah untuk membuat sang kerbau kenyang.

Saat pedati penuh, Reyhan CS pun berangsur pulang, mereka harus mempersiapkan diri untuk aktifitas selanjutnya yakni ke TPA untuk belajar mengaji. Batu yang mereka kumpulkan dijual ke tengkulak langganan, 1 pedatinya dihargai Rp 50 ribu, jika dibagi maka lebih kurang Rp 7 ribu perorang. Uang tersebut ia pergunakan untuk jajan dan beli perlengkapan sekolah. (Zamzami)