Beranda BERITA UTAMA AKSI NYATA MEMBANGUN PROVINSI NTT

AKSI NYATA MEMBANGUN PROVINSI NTT

1862
0
BERBAGI
image description

NTT,(FHI) – Peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-72 di tahun 2017 mengambil tema “Indonesia Kerja Bersama”. Penekanan dasar dari tema ini sebenarnya adalah untuk mengingatkan kembali seluruh rakyat Indonesia bahwa prinsip kerja sama yang merupakan prinsip dasar masyarakat Indonesia yang hidup sampai ke pelosok terdalam di daerah. Lewat kerja sama atau dalam bahasa lain disebut sebagai gotong royong merupakan prinsip hidup nenek moyang bangsa Indonesia, yang telah menjadi ciri khas karakter orang Indonesia yang dalam bahasa pembangunan telah dirumuskan menjadi modal dasar dari pada pendirian bangsa. Pada tataran lokal maupun nasional,  kerja sama telah menjadi ciri dari perjuangan bangsa Indonesia untuk mengusir penjajah dan berhasil meraih kemerdekaan. Dan dalam spirit yang sama, pada dirgahayu yang ke-72 ini, tema ini menegaskan dan menyemangati kita untuk terus bekerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas sebagaimana selalu disuarakan untuk memotivasi kita semua “kerja-kerja-kerja” serta mengenang kembali dan mengangkat kembali roh yang terpendam ini untuk memperbaharuinya supaya dapat digunakan dalam konteks kekinian kehidupan kita.

Dalam skala lokal, semangat kerja sama menjadi penentu dalam memberi warna pembangunan. Propinsi NTT sendiri lewat berbagai terobosan pemimpinnya telah mengejahwantahkan semangat kerja sama dan kegotongroyongan ini untuk membangun daerahnya. Arti nyata dari pada nilai kerja sama ini hadir dalam seluruh pengabdian yang telah ditorehkan oleh tokoh Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, yang telah menjadi katalisator dalam pembangunan multi dimensional di wilayah Nusa Tengara Timur ini. Frans Lebu Raya dalam seluruh perwujudan dirinya sebagai Gubernur Nusa Tenggara Timur telah menjalankan perannya lebih dari sekedar pemimpin. Ia justru hadir dalam banyak dimensi kehidupan yang memberi arti mendalam bagi kelangsungan rakyat di wilayah NTT. Kualitas pribadinya yang humanis, cerdas, adil dan dialektis serta beretika menjadikannya sebagai tokoh yang tak pernah habis dibahas oleh kata dan tak pernah usai dijelaskan oleh bahasa. Frans dalam perjuangan dan karirnya sebagai pemimpin daerah ini telah berusaha untuk menjadi pribadi ideal bagi kepentingan semua orang, semua suku, ras, golongan dan agama di Nusa Tenggara Timur. Sebagai evidensi dari pada eksistensi beliau dalam rangkaian panjang karirnya sebagai Gubernur NTT terwujud dalam aksi nyata pemerintah Provinsi NTT yang dikemas melalui delapan agenda pembangunan daerah; Pemantapan kualitas pendidikan, Pembangunan kesehatan, Pembangunan ekonomi, Pembangunan infrastruktur, Pembenahan sistem hukum dan keadilan, Konsolidasi tata ruang dan pengelolaan lingkungan hidup, Pemberdayaan perempuan anak dan pemuda, Penanggulangan kemiskinan melalui program Desa Mandiri Anggur Merah (DeMAM) serta Enam tekad daerah yakni menjadi Provinsi Jagung, Ternak, Koperasi, Cendana, Perikanan Kelautan dan Pariwisata serta Gerakan Masuk Laut, dan Gerakan Konsumsi Pangan Lokal. Secara detail dapat kita paparkan sebagai berikut.

Delapan Agenda Pembangunan Daerah

Gebrakan Frans Lebu Raya dalam usaha ‘membumikan’ semangat kerja sama untuk membangun NTT ini adalah dengan menetapkan delapan agenda pembangunan prioritas. Pertama, Agenda Peningkatan Kualitas Pendidikan, Kepemudaan dan Keolahragaan. Mengenai tingkat kelulusan pada semua jenjang pendidikan mencapai 100 % di tahun 2017. Pencapaian ini merupakan hasil yang menggembirakan namun pemerintah provinsi NTT terus berupaya bersama pemerintah Kabupaten/Kota untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan, karena penentuan kelulusan siswa berdasarkan pada hasil ujian sekolah dan rata – rata Nilai Ujian Nasional masih rendah (kategori lulusan, kategori D). Kesadaran masyarakat dalam bidang pendidikan di NTT masih fluktuaktif. Kesadaran ini terlihat dari realisasi Angka Partisipasi Kasar (APK) tahun 2016, SD 112,85%, SMP 98,96%, SMA SMA/SMK 77,69%. Angka Partisipasi Murni (APM) tahun 2016 SD mencapai 93,49%, SMP 69,20%, dan SMA/SMK 56,47%.

Dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan terdapat beberapa kendala yang ditemui antara lain. a) jangkauan aksesibilitas antara permukiman dan sekolah yang jauh,  sehingga mempengaruhi daya jangkau siswa ke sekolah. b) 50% sekolah belum diakreditasi karena keterbatasan kuota.  c) terdapat 23% guru belum sarjana dan 21.213 orang guru belum bersertifikasi dari total 92.193 guru. d) kondisi sarana dan prasarana sebagian besar belum memadai. e) kurangnya tenaga guru terutama tenaga guru dengan kualifikasi, kuntitas dan kualitas tertentu. f) selain itu, pemerintah Provinsi sedang melakukan penataan data guru akibat implementasi dari UU No. 23 Tahun 2014 khusus urusan pendidikan menengah (SMA/SMK) dan pendidikan khusus. Meskipun demikian yang sangat menggembirakan yakni NTT mendapatkan penghargaan terkait kejujuran dalam pelaksanaan ujian nasional.

Selain pendidikan, pada aspek pembinaan kepemudaan dilakukan melalui keikutsertaan Pemuda NTT dalam berbagai pelatihan seperti pemuda perbatasan, usaha ekonomi, manajemen organisasi kepemudaan dan wirausaha ekonomi, pembinaan paskibraka serta jambore pemuda indonesia. Demikian pula di bidang olahraga dilakukan melalui keikutsertaan para atlit pada pertandingan berbagai cabang olaraga seperti atletik, tinju, pencak silat, taekwondo dan kempo dalam berbagai momentum. Disamping prestasi di tingkat nasional juga internasional.  Misalkan baru-baru ini Atlet kempo Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mewakili Indonesia berhasil menyabet tiga medali emas, perak dan perunggu dalam kejuaraan “Shorinji Kempo World Taikai 2017” di Stadion San Mateo, California, Amerika Serikat (AS). Kejuaraan ini diikuti 16 negara, di antaranya Indonesia, Kanada, Amerika Serikat, Rusia, Spanyol, Finlandia, Jerman, Swedia, Portugal, Vietnam, Italia dan Jepang.

Kedua, Agenda Pembangunan kesehatan. Indikator pembangunan kesehatan yang mendasar terlihat dari persentase angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Angka kematian ibu sejak tahun 2013-2016 mengalami penurunan. Angka kematian ibu pada tahun 2016 sebesar 131/100.000 kelahiran hidup dibanding dengan tahun 2015 sebesar 133/ 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian ibu kondisi Juni 2017 sebesar 77 kasus. Sementara angka kematian bayi mengalami fluktuasi dari 2016 sebesar 5/1000 kelahiran hidup dibandingkan tahun 2015 sebesar 4/1000 kelahiran hidup. Sedangkan kasus kematian bayi sampai dengan Juni 2017 sebesar 378 kasus. Angka ini terus terkoreksi menurun, seiring dengan berbagai intervensi untuk perbaikan upaya layanan kesehatan ibu dan anak, Revolusi KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), pembangunan sarana dan prasarana kesehatan bagi masyarakat di daerah – daerah yang terpencil. Peningkatan kualitas hidup ibu dan bayi melalui kualitas Antenatal Care (ANC) yang terpadu dan terintegrasi serta peningkatan kualitas sumber daya manusia kesehatan dalam melakukan tatalaksana kegawatdaruratan bayi baru lahir, fokus pada tatalaksana manajemen Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan Asfiksia.

Ketiga, Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan dan Pengembangan Pariwisata. Frans mengungkapkan bahwa sudah 3 tahun berturut-turut ekonomi provinsi NTT bertumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan data Bank Indonesia (Februari 2017),  pada tahun 2016, pertumbuhan ekonomi  Provinsi NTT sebesar 5,18 % atau di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar   (5,02 %). Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi NTT tahun 2015 sebesar 76,19 triliun lebih. Komponen pendorong utama pertumbuhan ekonomi NTT pada tahun 2016 ialah sekotor pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 24,31 triliun lebih, kemudian disusul sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 10,66 triliun lebih.

Untuk mendukung stabilitas pertumbuhan ekonomi di NTT, pemerintah bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk mengendalikan laju inflasi. Berdasarkan data Bank Indonesia  (KEKR NTT, Februari 2017), rata-rata inflasi NTT tiga tahun terakhir lebih rendah dari inflasi nasional, sehingga menjadikan inflasi tahunan NTT menjadi capaian inflasi terendah dalam 15 tahun terakhir. Atas capaian tersebut pemerintah Provinsi mendapat penghargaan sebagai Tim Pengendali Inflasi Daerah terbaik di Kawasan Timur Indonesia. Selain inflasi terendah, untuk memastikan ketersediaan uang layak edar di Provinsi NTT, dengan dukungan Bank Indonesia telah dibuka tujuh kas titipan dan merupakan jumlah kas titipan terbanyak di Indonesia.

Keempat, Agenda Percepatan Pembangunan Infrastruktur Berbasis Tata Ruang Dan Lingkungan Hidup. Percepatan pembangunan infrastruktur baik pembangunan dan pemeliharaan jalan, jembatan, bendungan, embung – embung, daerah irigasi serta peningkatan dan rehabilitasi Daerah Irigasi (DI) sedang dilakukan; diantaranya pembangunan 1,700 km jalan nasional, dengan rincian 92% kondisi mantap dan 8% kondisi kurang mantap serta 2.650 km jalan provinsi; pembangunan 10 bendungan dari rencana semula 7 (tujuh) bendungan, yakni: kolhua di Kota Kupang, Raknamo dan Manikin di Kabupaten Kupang,  Rotiklot di Belu, Napun Gete di Sikka, Temef di TTS, Lambo di Nagekeo, Waebara di Sumba Timur, Polla Pare di Sumba Barat Daya, dan Wae Koe di Ngada, pembangungan embung irigasi 35 unit dan embung kecil 963 unit; perpanjangan landasan pacu Bandara Komodo; pembangunan dermaga Marina dan pembangunan infrastruktur jalan dalam kota Labuan Bajo sebagai Kawasan Strategis Destinasi Wisata utama di NTT.

Berkaitan dengan penataan ruang, Pembinaan dan Pengendalian Penataan Ruang dilakukan melalui penyusunan dokumen Standar Pelayanan Minimal (SPM) Tata Ruang serta Peninjauan  Revisi Tata Ruang Provinsi Tahun 2010-2030. Peningkatan perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup melalui pengembangan bank pohon dengan mendistribusikan 67.100 anakan untuk konservasi dan rehabilitasi lahan kritis di luar kawasan hutan. Sedangkan penilaian terhadap 15 Kabupaten/Kota sebagai nominator Peraih Penghargaan Adipura Tahun 2016, hasilnya peringkat pertama diraih oleh Kota Kupang dengan hasil 60,85, peringkat kedua Kabupaten Ngada dengan nilai 56,07 dan peringkat ketiga diraih oleh Kabupaten Alor dengan nilai 55,40. Sedangkan penghargaan Kalpataru tingkat Provinsi kepada sembilan orang dan empat kelompok tani pejuang lingkungan untuk kategori perintis lingkungan, kategori penyelamat lingkungan, kategori pembinan lingkungan dan kategori pengabdi lingkungan.

Kelima, Agenda Pembenahan Sistem Hukum dan Birokrasi Daerah. Proses penetapan kebijakan senantiasa mengedepankan pembahasan dengan melibatkan berbagai stakeholder terkait, sehingga dari waktu ke waktu kebijakan pemerintah Provinsi dihasilkan baik berupa peraturan daerah, peraturan Gubernur maupun Instruksi Gubernur diterima dan dapat dilaksanakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, ungkap Frans.

Lanjutnya, sesuai road map reformasi birokasi tahun 2013-2017, Provinsi NTT meraih prestasi urutan 12 dari 34 provinsi dengan kategori predikat B (Nilai=62,42). Ini menunjukkan akuntabilitas kinerja Pemerintah Provinsi NTT dari waktu ke waktu makin baik. Untuk pertama kali dalam sejarah tatakelola keuangan daerah Provinsi NTT mendapat penilaian Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Opini Wajar Tanpa Pengecualian ini harus tetap dipertahankan pada tahun-tahun yang akan datang dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Keenam, Agenda Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak. Agenda ini dilakukan melalui, peningkatan akses perempuan, anak dan pemuda dalam sektor publik serta peningkatan perlindungan terhadap perempuan, anak dan pemuda melalui fasilitas operasi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2T2A), dalam menangani korban kekerasan terutama korban KDRT, advokasi dan sosialisasi pelaksanaan kapasitas penguatan jejaring perempuan.

Selain itu, inovasi pelayanan publik 2H2 center (2 hari sebelum dan 2 hari sesudah melahirkan) kerabat ibu dan bayi dari kabupaten Flores Timur, terpilih bersama 20 inovasi pelayanan publik lainnya di seluruh Indonesia untuk ikut dalam kompetisi inovasi pelayanan publik tingkat internasional Edge Govermment Innovation Award tahun 2018 di Dubay.

Ketujuh, Pembangunan Perikanan Dan Kelautan. Untuk mendukung produktifitas perikanan, maka tahun 2016 telah diberikan bantuan berupa 170 unit kapal 3 GT, 1 unit kapal 10 GT, alat tangkap mini purse seine 5 unit, mesin board 33 PK sebanyak 5 unit, mesin tempel 15 HP sebanyak 5 unit, alat tangkap Gill net Milenium 45 unit, cool box 60 unit, GPS 15 unit dan Fish Finder 13 unit. Sehingga, tahun 2016, produksi perikanan tangkap sebanyak 123.765 ton, naik dari produksi perikanan tangkap tahun 2015 sebesar 118.827,34  ton. Sedangkan untuk produksi budidaya rumput laut mengalami penurunan yakni, tahun 2016 produksi budidaya rumput laut sebanyak 1,8 juta ton, turun dari tahun 2015 dengan produksi sebanyak 2,1 juta ton basah.

Kedelapan, Agenda Khusus Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, Penanggulangan Bencana dan Pembangunan Daerah Perbatasan.  Melalui Program Desa Mandiri Anggur Merah (DeMAM). Sejak tahun 2011, Pemprov NTT dibawah kendali Gubernur Frans Lebu Raya terus berusaha meningkatkan pendapatan masyarakat melalui Program Pembangunan Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah (DeMAM). Setiap desa/kelurahan mendapat dana Rp250 juta yang digunakan untuk pengembangan usaha ekonomi produktif sesuai potensi yang dimiliki desa/kelurahan. Untuk memuluskan program yang diluncurkan Gubernur Frans Lebu Raya pada HUT NTT ke-53 tanggal 20 Desember 2010 ini, maka di setiap desa ditempatkan satu tenaga pendamping yang bertugas membantu masyarakat mengelola usaha yang digeluti. Berkat kerja sama seluruh komponen masyarakat NTT pada tahun 2017 jumlah dana hibah Program DeMAM yang telah direalisasikan sebesar Rp. 812.500.000.000 miliar untuk 3.250 desa/ kelurahan di seluruh kabupaten/ kota di NTT. Gubernur Frans Lebu Raya bertekad, pada tahun 2017 nanti atau setahun sebelum masa jabatannya berakhir pada 2018 sebanyak 3270 desa/kelurahan di NTT dapat terealisasi program DeMAM.

Program DeMAM mempunyai tujuan terutama untuk mengurangi angka kemiskinan melalui pengembangan usaha ekonomi produktif desa sesuai keunggulan kompetitif/ komparatif desa, berupa pemberian dana hibah kepada pemerintah desa/kelurahan untuk disalurkan dalam bentuk pinjaman kepada kelompok usaha ekonomi masyarakat (pokmas) dan koperasi. Program DeMAM juga bertujuan untuk mendorong pemberdayaan kelembagaan desa/ kelurahan untuk mendukung pelaksanaan tekad pembangunan dan agenda pembangunan daerah sesuai RPJMD Provinsi NTT. Dengan demikian Program DeMAM memberi pengaruh yang positif terhadap penurunan jumlah penduduk miskin di NTT; kondisi Bulan Maret 2016 sebesar 22,19%, September 2016 sebesar 22,01% sedangkan kandisi Maret 2017 sebesar 21,85%.

Untuk pembangunan daerah rawan bencana, selain pembangunan sarana-prasarana fisik, dilakukan pula advokasi masyarakat mengenai tanggap bencana, pendataan kerusakan akibat bencana serta dukungan logistik dalam rangka penanganan bencana. Sedangkan pembangunan infrastruktur di kawasan perbatasan dengan negara RDTL, diantaranya pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu di Mota’ain Kabupaten Belu, Motamasin Kabupaten Malaka, dan Wini Kabupaten Timor Tengah Utara, pembangunan jalan sabuk perbatasan yang menghubungkan PLBN Motamasin-Motaain dan Wini. Selain itu, Fasilitas proses penegasan Batas Wilayah Administrasi antar Kabupaten/Kota dengan hasilnya, penetapan 5 (lima) batas daerah melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri, yakni batas daerah antara Manggarai-Manggarai Timur, Sikka-Ende, Kupang-Timor Tengah Utara, Kupang-Timor Tengah Selatan dan Sumba Timur-Sumba Tengah.

Enam Tekad Pembangunan

Wujud nyata kerja sama dan kerja keras yang ditunjukkan oleh pemerintahan Frans Lebu Raya adalah juga dengan melahirkan enam tekad pembangunan di wilayah NTT. Pelaksanaan  Enam Tekad Pembangunan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pertama, Tekad Pengembangan Jagung. Jumlah produksi jagung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun kecuali untuk tahun 2011 dimana terjadi penurunan. Produksi jagung tertinggi terjadi pada tahun 2013 dengan jumlah produksi sebesar 707.642 ton dengan luas tanam sebesar 273.850 ha. Kondisi terakhir untuk tahun 2016 jumlah produksi jagung sebesar 688.432 ton. meningkat bila dibandingkan dengan produksi jagung tahun 2015 sebesar 685.081 ton. Pada musim tanam 2016/2017, luas tanam sebesar 318.617 Ha atau bertambah seluas 35.505Ha sehingga NTT mendapatkan penghargaan atas tambahan luas tanam jagung tertinggi di Indonesia.

Kedua, Tekad Pengembangan Ternak. Untuk ternak sapi,  jumlah populasi sapi di Provinsi NTT cenderung naik dari tahun ke tahun. Tahun 2011 sebanyak 778.663 ekor dan untuk jumlah populasi sapi pada tahun terakhir (April 2017) sebanyak 1.003.704 ekor. Pertumbuhan rata-rata per tahun populasi ternak sapi di Provinsi NTT adalah 4,34 %. Dimana pada tahun 2011 populasi ternak sapi sebanyak 778.631 ekor, tahun  2012 sebanyak 814.451 ekor, tahun 2013 sebanyak 823.096 ekor, tahun 2014 sebanyak 865.731ekor, tahun 2015 sebanyak 899.577 ekor, dan tahun 2016 sebanyak 984.508 ekor  mengalami peningkatan 9,4% dari tahun sebelumnya. sedangkan April 2017 (1.003.704) ekor diperkirakan melampaui target RPJMD. Dan kuota pengiriman sapi tahun 2016 meningkat menjadi 56.250 ekor atau mengalami kenaikan kurang lebih 6,43 per tahun.

Produksi daging sapi pada tahun 2016 sebanyak 12.441.780 kg atau 12.441 ton lebih. Produksi daging tahun 2017, angka sementara sebanyak 12.718.980kg atau 12.718 ton lebih. Untuk perdagangan ternak sapi antar pulau, mengalami peningkatan tiap tahun, yakni tahun 2015 sebanyak 52.811 ekor, tahun 2016 menjadi 63.429 ekor.

Ketiga, Tekad Pengembangan Bidang Koperasi. Kondisi pada tahun 2017 terdapat 4.062 unit koperasi dengan rincian, Koperasi Aktif 3.754 unit dan Koperasi Tidak Aktif 307 unit. Keberadaan koperasi ini menyerap 31.238 orang tenaga kerja untuk melayani 997.050 orang anggota koperasi. Dari segi keuangan, kondisi pada 31 Juni 2017, koperasi di NTT memiliki modal sendiri sebesar Rp 2,467 triliun lebih atau meningkat sebesar 5,54persen dari tahun 2016 sebesar Rp 2,337 triliun lebih. Modal luar sebesar Rp 3,312 miliar lebih atau mengalami peningkatan sebesar 9,77 dari tahun 2016 sebesar Rp 3.017 miliar lebih dan Modal Luar sebesar Rp. 3,3 triliun lebih. Sedangkan Sisa Hasil Usaha (SHU)  414 miliar. Peningkatan ini diperoleh dari volume usaha sebesar Rp 4,562 miliar lebih.

Keempat, Tekad Pengembangan cendana. Program Pengelolaan Cendana Lestari tahun 2016 telah dilakukan melalui; 1) Pembangunan Hutan Tanaman Cendana di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Alor, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya (Multi-years) seluas 100 hektar. 2) Pemeliharaan Tanaman Cendana Tahun I (PT.I) di Kabupaten Flores Timur, Alor dan Sumba Timur seluas 30 hektar.  3) Pemeliharaan Tanaman Cendana Tahun II (PT.II) di Kabupaten Kupang, Lembata, Flores Timur, Alor dan Sumba Timur seluas 65 Ha. 4) Pemerliharaan Tanaman Cendana Tahun III (PT.III) di Kabupaten Alor, Flotim, dan Sumba Timur  seluas 40 ha. 5) Pemelihraan Tanaman Cendana Tahun IV (PT.IV) di Kota Kupang, 22.7 ha. 6) Swakelola, Optimalisasi Gerakan Penanaman Cendana Keluarga dan Gerakan Cendana Pelajar serta penyediaan benih/bibit tanaman cendana sebanyak 100.000 anakan.

Kelima, Tekad Pengembangan Perikanan dan Kelautan. Produksi ikan tangkap di Provinsi NTT cenderung meningkat dari tahun 2011-2016 yakni tahun 2011 sebesar 102.136 ton, tahun 2012 sebesar 66.004,51 ton, tahun 2013 sebesar 103.824 ton, tahun 2014 sebesar 108.000 ton, tahun 2015 sebesar 118.827 ton dan tahun 2016 sebesar 123.765 ton, dengan nilai uang sebesar Rp. 1,37 triliun, bahkan melampaui target RPJMD yakni 85.265 ton tahun 2016. Ekspor 1.259 ton dengan nilai sebesar $ 4 juta lebih atau Rp. 52,9 miliar dengan negara tujuan, Amerika Serikat, Jepang, Thailand dan Timor Leste. Produksi budidaya ikan meningkat pada tahun 2013-2015, kemudian menurun pada rentang waktu 2015-2016. Jumlah produksi sebesar 5000 ton lebih dengan nilai Rp. 120 miliar dan menyerap tenaga kerja sebesar 20.068 orang. Selain perikanan, pengembangan perikanan budidaya lainnya yaitu : Pengembangan budidaya rumput laut sebesar 1,8 juta ton lebih basah atau 229 ribu ton lebih kering, dengan nilai uang sebesar Rp. 1,84 triliun.

Tahun 2017, data sementara menunjukkan bahwa produksi perikanan budidaya sebesar 2.105 ton dengan nilai Rp. 94 miliar, menyerap tenaga kerja 20.068 orang. Produksi rumput laut sebesar 562 ribu ton lebih basah atau 70 ribu ton kering, dengan nilai uang sebesar Rp. 560 miliar lebih. Perikanan tangkap dengan produksi sebesar 63.352 ton, dengan nilai uang sebesar Rp. 650 miliar lebih. Pengiriman ke luar negeri 305 ton dengan nilai sebesar $ 1,2 juta lebih atau Rp. 163 miliar dengan negara tujuan, Amerika Serikat, Jepang, Thailand dan Timor Leste.

Keenam, Tekad Pengembangan Pariwisata. Keberhasilan pengembangan pariwisata sesuai Peraturan Daerah Provinsi NTT (Perda) Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pengembangan (RIPPAPROV) telah dilakukan pengembangan kepariwisataan berupa Pengembangan Destinasi Pariwisata dan industri pariwisata, pengembangan kelembagaan dan industri kreatif serta promosi Pariwisata. Dampaknya tahun 2016, pariwisata NTT meraih juara umum dalam ajang pemilihan ANUGERAH PESONA INDONESIA 2016 serta Hotel Nihi Watu selama 2 tahun berturut turut dinobatkan menjadi hotel terbaik dunia versi majalah Travel and Leisure.

Dampak lainnya, tahun 2016 jumlah kunjungan wisatawan ke NTT meningkat yakni sebanyak 913.121 orang dengan rincian, 113.089 wisatawan mancanegara  dan 800.032 wisatawan nusantara atau meningkat dibanding tahun 2015 dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 66.860 orang, dan wisatawan nusantara sebanyak 441.316 orang. Rata-rata lama menginap wisatawan 3 hari dengan akumulasi belanja wisatawan sebesar Rp. 530,793 miliar.

Tahun 2017 telah digelar event promotif untuk mengangkat citra pariwisata NTT yakni, Bulan Soekarno, Parade 1001 kuda sandelwood dan Festival Tenun Ikat, serta Tour de Flores 2017, disusul penyelenggaraan event Tour de Timor dan Tuan Rumah Pemilihan Duta Wisata Tingkat Nasional. Selain itu, Pemerintah Provinsi NTT dengan dukungan Pemerintah Pusat melalui Kemenko Maritim, Kemenpar RI, Kemenhub, telah membangun kesepakatan tentang pembangunan Home Port Marina di Labuan Bajo, bekerja sama dengan Carnival Shiping Line. “Kita optimis, dengan ditetapkannya Labuan Bajo sebagai salah satu dari 10 destinasi utama pariwisata nasional dan peningkatan sarana dan prasarana di berbagai destinasi pariwisata, jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat dari waktu ke waktu,” ungkap Lebu Raya,

Berani dan Antisipatif

Drs. Frans Lebu Raya muncul ketika memprioritaskan NTT menjadi provinsi Koperasi. Kita semua mengetahui dengan baik bahwa pamor koperasi dalam dasawarsa terakhir ini sangat merosot akibat buruk kinerja dan rusaknya manajemen dan pengelolaannya. Tetapi beliau berusaha untuk lawan arus masa kini dan membuktikan bahwa di Nusa Tenggara Timur koperasi masih motor penggerak pembangunan ekonomi rakyat dan masih merupakan jalan terbaik untuk mengentaskan dan mengurangi kemiskinan. Fakta lain yang menunjukkan bahwa figur seorang Frans Lebu Raya menjadi tokoh yang berani dan antisipatif  adalah, bahwa semakin besarnya kepercayaan yang diberikan kepada rakyat untuk merencanakan dan mengatur strategi pembangunan dari bawah. Pola bottom – up menjadi salah satu prioritas darinya ketika Desa mandiri Anggur Merah diluncurkan sebagai program primadona untuk membangun masyarakat berbasis kebutuhan ril di daerah.

Ini menjadi bukti yang besar akan komitmennya yang kuat untuk membangun negeri ini dalam satu perspektif yang lebih holistik. Ia juga berusaha untuk mengembalikan ikon Propinsi NTT yang sudah memudar yaitu sebagai propinsi penghasil ternak (sapi, kuda, kerbau, kambing) berkualitas, dan juga bertekad untuk mengembangkan kembali Cendana, tanaman khas Nusa Tenggara Timur yang hampir punah karena keserakahan nafsu manusia.  Bapak Frans lebih berani lagi ketika berjuang dengan tanpa malu untuk mempromosikan makanan lokal; jagung, ubi, pisang dan kacang-kacangan sebagai pangan lokal yang harus dilestarikan. Orang lain berpikir mungkin dengan mengembalikan pola menu makan masyarakat ke makanan lokal berarti kualitas manusia menjadi lebih rendah, ternyata pola pikir seperti itu dimentahkan oleh Bapak Frans, dan ia menjadikan pangan lokal dengan seluruh kandungannya menjadi hal yang harus dan terus diperjuangkan oleh seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur, sebagai wujud dari kecintaan akan bumi Flobamorata dan juga merupakan sebuah langkah berani dan antisipatif terhadap kerawanan beras di masa yang akan datang.

Membangun Provinsi NTT hanya dapat berjalan dengan mempertimbangkan seluruh dimensi kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, pembangunan hanya bisa mendapatkan rohnya yang kuat ketika seluruh aspek kehidupan masyarakat dan seluruh komponen masyarakat bekerja bersama membangun bumi NTT. Frans Lebu Raya tetaplah seorang yang berani dan masih berjalan pada koridor etika ketimuran yang wajar dan pantas. Untuknya, kepemimpinan ini merupakan sebuah anugerah yang tak ternilai dan itu semua hanya bisa dikawal dengan niat yang tulus untuk membangun Nusa Tenggara Timur hingga akhir masa jabatannya sebagai Gubernur NTT. (Jose).